Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas
INI jelas bukan tentang “How Low Can You Go”-nya A-Mild dulu ketika
menantang merek lain soal kadar tar dan nikotin dalam rokok. Tapi, di
zaman New Wave Marketing ini, tantangannya adalah, sedalam apa kita
bisa mengerti pelanggan. Memang, dari dulu, upaya memahami pelanggan
ini sangat sulit. Sekarang ini lebih susah lagi karena tiga hal berikut.
Pertama, customers want to look good. Mereka tidak ingin kelihatan
jelek atau kekurangannya diketahui orang lain. Coba saja Anda tanyakan
ke anak-anak muda, pernahkah mereka memakai viagra. Sebagian besar
pasti mengaku belum pernah, walaupun kenyataannya belum tentu begitu.
Coba juga Anda tanya ke setiap laki-laki yang baru saja keluar dari
toilet umum, apakah mereka sudah mencuci tangannya. Saya yakin hampir
semua pasti bilang sudah, walaupun sebenarnya belum. Ini terjadi
karena orang sudah dari sono-nya cenderung enggan mengungkapkan
hal-hal yang bisa membuat malu mereka atau yang menunjukkan kekurangan
mereka.
Masalah kedua, banyak bias yang bisa muncul kalau orang sengaja
ditanya tentang suatu hal. Ini terjadi antara lain karena pengaruh
lingkungan atau mereka kesulitan mengungkapkan maksud yang sebenarnya.
Misalnya saja ketika orang ditanya, warna mobil apa yang disukai oleh
mereka. Kebanyakan saya yakin akan menjawab hitam. Ini belum tentu
warna yang sesungguhnya mereka sukai, namun bisa saja terjadi bias
karena mayoritas mobil yang mereka lihat sehari-harinya berwarna
hitam. Atau ketika orang ditanya tentang rasa suatu makanan.
Jawabannya bisa terlalu generik, enak atau tidak enak. Namun ketika
diminta mengungkapkan lebih lanjut apa yang dimaksud enak atau tidak
enak itu, mereka kesulitan menguraikannya.
Masalah ketiga yang membuat pelanggan semakin susah dimengerti adalah
mereka begitu gampang bohong. Hal ini terutama didorong oleh kemajuan
teknologi. Orang tidak perlu lagi bertemu atau berbicara secara
langsung (face-to-face). Cukup lewat telepon, e-mail, atau online
survey. Lihat saja, banyak laki-laki yang sehari-harinya terlihat
pendiam namun bisa jadi perayu ulung lewat SMS atau saat chatting online.
Begitu juga dengan survei-survei yang dilakukan lewat telepon atau
Internet. Kita akan lebih mengalami kesulitan mengetahui apakah
responden berkata atau mengisi kuesionernya secara jujur jika tidak
diverifikasi lebih lanjut. Beda misalnya jika bertemu secara langsung.
Dari raut muka, nada bicara, dan bahasa tubuhnya, kita akan lebih bisa
mendeteksi apakah seseorang berkata jujur atau tidak.
Nah, ketiga hal inilah yang membuat upaya kita memahami pelanggan
semakin sulit, dan pada akhirnya membuat program marketing kita gagal.
Lantas, bagaimana cara untuk bisa lebih memahami pelanggan ini?
Ada satu ungkapan menarik dari CEO Worldwide Saatchi & Saatchi, Kevin
Roberts, “If you want to understand how a lion hunts, don’t go to the
zoo. Go to the jungle.” Inilah kuncinya. Sebagai marketers, kita harus
bisa mengamati pelanggan, bagaimana mereka hidup dan bekerja pada
kondisi alaminya (natural setting). Dari sinilah kita bisa mendapatkan
the real insight dari pelanggan kita.
Studi yang digunakan untuk mendapatkan insight pelanggan seperti ini
dikenal dengan nama Ethnography Marketing (EM). EM sebenarnya berakar
dari disiplin ilmu antropologi. Di sini marketers menggunakan
dasar-dasar ilmu antropologi untuk memahami bagaimana orang membeli,
menggunakan, atau merelasikan dirinya dengan sebuah produk.
Dibandingkan metode riset biasa seperti wawancara atau focus group
discussion (FGD), customer insight seperti lewat EM ini cakupannya
lebih sempit, namun juga lebih dalam dan lebih bersifat terbuka
(open-ended). Banyak hal yang bisa dieksplorasi lebih lanjut.
Lokasi risetnya juga bukan di satu tempat tertentu seperti di
laboratorium atau ruang FGD misalnya. Namun dilakukan di tempat yang
sebenarnya, tempat sehari-harinya orang tersebut beraktivitas. Bisa di
rumah, kantor, toko, ruang publik, restoran, event-event seperti saat
konser musik atau lomba balap mobil, atau di tempat-tempat lain. Lewat
cara seperti ini kita akan lebih bisa memahami soal kepuasan,
ketidakpuasan, atau keterbatasan pelanggan dibanding pendekatan riset
lainnya.
Di MarkPlus sendiri, kami telah melakukan EM ini, yang kami namakan
VenuSight®. Sejumlah proyek yang telah kami garap memang membuktikan
bahwa pendekatan EM mampu memberikan banyak temuan yang mungkin tidak
bisa didapat lewat pendekatan riset biasa.
Memang, di era New Wave Marketing ini marketers harus semakin bisa
“menyelam” (immerse) dengan pelanggan. Dengan demikian marketers akan
lebih mampu menemukan latent needs dari pelanggan dan pada akhirnya
dapat membuat produk yang benar-benar bisa diterima oleh pelanggan.