Selamat Natal 2006
Posted on December 23rd, 2006 in Personal Life, religi |
Semoga Natal membawa damai bagi kita semua, dimana kita mendambakan natal yang putih.
Selamat Natal semuanya :).
nb: berikut artikel yang bagus mengenai “Natal Putih”
Merindukan Natal Putih
Oleh Aloys Budi Purnomo
Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang
Membebaskan, Semarang.
Sumber dari kompas online kompas online
====================
Bukan hanya Irving Berlin yang memimpikan “Natal Putih”, seperti
dituturkan dalam lagu, White Christmas.
Salah satu harapan yang diungkap dalam lagu yang dibuat pada awal
tahun 1940 dan dinyanyikan Bing Crosboy pada tahun 1942 dalam musical
Holiday Inn itu dirumuskan dengan kalimat, “May your days be merry
and bright. And may all your Christmases be white.”
Kita pun merindukan “Natal Putih”! Mengapa? Apa artinya untuk kita?
Apa maknanya untuk masyarakat luas?
Natal dan bencana
Natal tahun ini adalah unik. Pertama, untuk pertama kali, korban
gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami Natal dalam keprihatinan.
Tidak sedikit dari mereka yang sejak bencana hingga kini masih
berteduh di bawah tenda dan rumah darurat.
Warga korban gempa di Desa Ambar Ketawang, Kecamatan Gamping,
Kabupaten Sleman, masih tinggal di tenda dan rumah sementara. Mereka
gelisah. Atap tempat mereka berteduh bocor. Mereka mengharap bantuan
terpal karena mulai rusak (Kompas, 19/12/2006).
Kedua, ketika korban bencana di Yogyakarta dan Jawa Tengah belum
pulih, warga Solok, Sumatera Barat tertimpa galodo, tanah longsor.
Warga Pulau Palue, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terhantam gempa
yang merusakkan 93 bangunan (Kompas, 19/12/2006).
Menyusul gempa di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada
Senin (18/12/2006). Banyak korban luka, tenda-tenda darurat dibangun
di sekitar Kantor Kecamatan Muara Sipongi, Mandailing Natal, guna
menampung 2.000 lebih pengungsi (Kompas, 19/12/2006).
Ketiga, khusus untuk Yogyakarta, ada tiga gedung gereja yang hancur
akibat gempa dan hingga hari ini belum terbangun kembali. Mereka akan
merayakan Natal 2006 seperti keaslian natal perdana 2006 tahun silam,
saat Yesus lahir di tempat darurat! Kiranya hal ini terhayati bukan
dengan ratapan, tetapi tetap dengan harapan dan sukacita!
“A White Christmas”
Data-data itu mengetuk nurani untuk peka terhadap mereka yang
tertimpa bencana!
“Natal Putih” adalah natal yang bersih, kendati terjadi di tengah
keadaan darurat! “Natal Putih” adalah natal yang ditandai
kesetiakawanan dan semangat belarasa kepada mereka yang menderita,
kecil, lemah, miskin dan tersingkir.
“Natal Putih” adalah natal yang penuh damai sejahtera, meski terjadi
dalam kondisi darurat, penuh derita dan sengsara. Justru di tengah
krisis dan keprihatinan sosial pada masa natal perdana ditandai damai
sejahtera.
Melanjutkan pesan natal perdana, Konferensi Waligereja Indonesia
(KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengajak umat
Kristiani di Indonesia untuk menjadikan damai sejahtera natal sebagai
kesempatan mewujudkan persatuan, kesatuan dan kerukunan dalam
keberagaman.
Damai natal menjadi cita-cita umat manusia sepanjang masa. Kenyataan
pada natal perdana dan sekarang, tidak jauh berbeda. Kehidupan
dicekam berbagai kekhawatiran dan ketakutan. Kehidupan sosial,
politik, ekonomi berat. Bencana dan penyakit melanda. Rakyat
mengalami ketertindasan penguasa. Itulah suasana kehidupan saat natal
perdana terjadi 2006 tahun lampau.
Suasana yang sama masih terjadi di banyak tempat hari-hari ini,
termasuk di negeri kita. Kemiskinan, korupsi, kekerasan,
ketidakadilan, masih menjadi persoalan yang terus dihadapi masyarakat
kita bersama pemerintah dan elite politik kita.
Maka, bagi bangsa ini pun, gema kerinduan mewujudkan kehidupan
bersama yang penuh damai sejahtera masih signifikan dan relevan.
Mewujudkan damai
Untuk menghayati “natal putih” sehingga hari-hari kita cerah bersinar
kendati di tengah pencobaan, tak ada jalan lain kecuali dengan
menjadikan momen natal sebagai upaya mewujudkan damai sejahtera
Kristus kepada sesama.
Untuk itu, imbauan KWI dan PGI perlu menjadi perhatian. Natal akan
menjadi perwujudan damai sejahtera bila kelima hal berikut terjadi.
Pertama, kita mampu merobohkan tembok-tembok pemisah yang selama ini
menyebabkan adanya sikap terlalu mementingkan diri atau kelompok.
Kedua, mari menghayati kehidupan yang lebih terbuka dan bersahabat
sebagai sumbangan nyata bagi terwujudnya Indonesia baru yang
berkeadaban.
Ketiga, kita mampu mengungkapkan kebenaran tanpa takut dan gentar,
memperjuangkan kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera, menghargai
Hak Asasi Manusia, dan menegakkan hukum yang berkeadilan.
Keempat, upayakan terus penggalangan hubungan dan kerja sama dengan
seluruh warga bangsa, dengan tetap menghargai kemajemukan, kekayaan
budaya bangsa, dan senantiasa bertekun dalam mempertahankan dasar
Negara Pancasila.
Kelima, perjuangkanlah kesejahteraan ekonomi bersama karena tidak ada
damai selama tidak ada perbaikan ekonomi dan selama sebagian besar
warga bangsa ini hidup dalam belenggu kemiskinan.
Marilah kita wujudkan kerinduan kita akan perayaan natal yang putih
dan bersih, ditandai belarasa dan kerukunan di antara kita bersama.
Selamat Natal!
No Responses
Kok mirip banget dengan khotbahnya Romo Benny Susetyo di Republik Mimpi sebelum natal yah?
hmn… saya belum pernah menonton republik mimpi, tapi mungkin intisari ceramahnya sama yaitu white christmas dimana diharapkan suatu keadaan damai dimuka bumi ini.