From Thai Boxing to American Wrestling
Posted on September 12th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »
Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca online di Kompas
DARI tinju ala Thailand sampai ke gulat gaya Amerika.
Adalah Pak I Nyoman G. Wiryanata, Direktur Konsumer PT Telkom
Indonesia, yang mengatakan istilah itu kepada saya.
Beliau ingin menggambarkan betapa kacaunya persaingan di dunia
marketing saat ini, khususnya di industri telekomunikasi di Indonesia.
Bagaimana tidak. Barangkali susah dicari suatu negara yang jumlah
operatornya sebanyak Indonesia. Kalau saya tidak salah catat, saat ini
ada 10 operator seluler di Indonesia, baik yang berbasis GSM maupun
CDMA. Mereka adalah: Telkomsel, Indosat, XL, Telkom (Flexi), Bakrie
Telecom (Esia), Mobile 8 (Fren), Smart, Sampoerna Telekomunikasi
(Ceria), Hutchison CP (3/Three), dan Natrindo Telepon Seluler (Axis).
Para operator tersebut melihat bahwa Earnings Before Interest, Taxes,
Depreciation and Amortization (EBITDA) di industri telekomunikasi di
Indonesia ini memang masih sangat tinggi. EBITDA ini merupakan metrik
yang biasa digunakan untuk menghitung kinerja keuangan dan
mengevaluasi tingkat profitabilitas sebuah perusahaan beraset besar
seperti dalam industri telekomunikasi. Semakin tinggi nilai
EBITDA-nya, berarti perusahaan atau industri tersebut semakin bagus
kinerja keuangannya.
Berdasarkan laporan terkini dari lembaga Research and Markets yang
berjudul “2Q08 Indonesia Mobile Forecast, 2008 - 2010: Indonesia will
continue to be the most profitable mobile market in East Asia”, EBITDA
industri telekomunikasi seluler di Indonesia diperkirakan akan
mencapai angka 64% pada tahun 2010.
Selain itu, tingkat penetrasi telekomunikasi seluler di Indonesia
diperkirakan juga akan terus meningkat. Dari sekitar 50,7% pada tahun
2008 ini menjadi 62,7% pada tahun 2010. Jumlah pelanggan juga akan
meningkat dari 115,6 juta pada tahun 2008 ke 146,5 juta pelanggan pada
tahun 2010.
Coba, sekarang siapa yang tidak tergiur melihat angka-angka tersebut?
Karena itu, semua pemain mati-matian untuk meraih pangsa pasar (market
share) dari segi jumlah pelanggan yang sebesar-besarnya. Strategi
pemasaran yang kemudian digunakan adalah dengan melakukan perang harga
yang tak terkendali. Semua operator seluler berlomba-lomba
mengiklankan dirinya sebagai yang paling murah lewat media cetak,
elektronik, maupun media luar ruang.
Perang harga ini memang bukan semata karena secara internal para
operator seluler tersebut bisa melakukan pengurangan biaya. Tarif
komunikasi seluler, baik percakapan maupun layanan SMS, memang sudah
diturunkan oleh pemerintah sejak 1 April 2008 lalu. Jadi, karena
secara industri tarifnya turun, para operator seluler juga mengikutinya.
Namun celakanya, iklan-iklan perang tarif yang dibuat sudah
kebablasan. Ada yang menyerang operator lain walaupun secara tersamar.
Informasi yang ada dalam iklan tersebut juga kadang menyesatkan,
sehingga banyak menimbulkan protes dari pelanggan.
Karena itulah, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) turun
tangan mengingatkan para operator tadi. Iklan yang ada tidak boleh
melampaui batas etika dan tidak boleh memberikan informasi yang kurang
lengkap sehingga terjadi misinterpretasi di kalangan konsumen. Selain
itu, walaupun terjadi perang tarif, namun kualitas layanan harus
diutamakan dan tidak boleh terganggu.
Persaingan di industri telekomunikasi seluler di Indonesia ini memang
sudah agak kacau.
Mengambil ilustrasi dari olahraga tinju dan gulat, kita bisa melihat
tiga tingkat persaingan.
Yang pertama adalah Traditional Boxing. Semua orang—petinju, wasit,
hakim, pelatih, penonton—ikut aturan. Petinju hanya dapat nilai kalau
tinjunya kena muka lawan.
Kalau yang ditinju kepala bagian belakang atau perut bagian bawah,
nggak dihitung, bahkan bisa diperingatkan wasit dan dikurangi
nilainya. Selain itu, juga tidak boleh menggunakan kaki untuk
menendang lawan.
Nah, persaingan tingkat kedua adalah Thai Boxing. Ini lain lagi
ceritanya. Sekarang boleh menggunakan kaki untuk menendang lawan
secara legal. Tapi, di sini pertarungannya masih berlangsung relatif
terkendali karena masih ada aturan yang dipatuhi.
Tapi, kalau persaingannya sudah mencapai tingkat American Wrestling,
wow, kacau sekali.
Tidak jelas, siapa kawan siapa lawan. Yang tadinya kawan bisa jadi
lawan. Semua benda mulai dari meja, kursi, palu, sampai tangga besi
bisa digunakan untuk menghantam lawan.
Lawan juga bisa diuber sampai di luar arena pertandingan. Wasitnya
bisa ikut-ikutan dipukul.
Benar-benar kacau, karena nyaris tidak ada aturan yang berlaku.
Nah, tentu tidak ada yang menginginkan persaingan seperti American
Wrestling ini, bukan?
Bukan hanya pemain yang akan repot karena bisa menggerus profit.
Pelanggan juga dirugikan karena kualitas layanan bisa terganggu.
Secara industri juga bisa berdampak negatif karena bisa menimbulkan
oligopoli.