Password Protection dengan htaccess

November 14th, 2008

Minggu lalu ada kebutuhan untuk membuat website upload file dan file yang sudah diupload tidak boleh bisa didownload tanpa menggunakan password.

Cara termudah yang saya temukan adalah menggunakan .htaccess untuk proteksi folder tempat file diupload. Berikut langkah-langkahnya :) .

Buat file .htaccess di folder yang ingin di password isinya bisa sebagai berikut:

AuthName "Nama Yg Diinginkan Untuk Muncul Saat Prompt Password"
AuthType Basic
AuthUserFile /path/.htpasswd
Require valid-user

/path/ diisi path tempat file .htpasswd berada, untuk keamanan, sebaiknya file ini diletakkan di home directory, jangan di public_html :) . Contohnya di /home/usernamecpanel/.htpasswd

Berikutnya buat file .htpasswd dengan diisi username dan password dengan format berikut:
username:password

untuk membuat password yang terenkripsi ada dua cara yang saya tahu dengan menggunakan shell $htpasswd -c /home/usernamecpanel/.htpasswd USERNAME (langkah ini biasanya tidak bisa dilakukan karena pihak provider hosting tidak memberikan account ssh untuk akses shell), nah langkah lainnya gunakan layanan online htaccess password generator.

Bagaimana Membuat Karyawan Punya Rasa Memiliki Perusahaan

November 7th, 2008

Sebagai seorang pengusaha, salah satu hal yang sulit untuk dilakukan adalah bagaimana membuat karyawan punya rasa memiliki perusahaan, sehingga karyawan dapat bekerja dengan enjoy dan menghasilkan produk atau layanan yang ok ke customer.

Berikut adalah tips yang saya dapatkan dari teman saya, yaitu untuk memposisikan karyawan agar:
1. Suka akan kerjaan yang dilakukan
2. Suka bos nya :)
3. Suka orang – orang di kantor
4. Merasa memiliki dengan adanya bonus akhir tahun sesuai prestasi
5. Merasa apabila suatu pekerjaan sudah diselesaikan dengan lebih cepat maka beban pekerjaan berikutnya menjadi lebih ringan
6. Bisa berkembang apabila perusahaan berkembang dan sebaliknya.

Ada yang mau share kenapa punya rasa memiliki perusahaan tempat sekarang bekerja?

Bangun Pemudi Pemuda Indonesia

October 29th, 2008

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri

Bangun Pemudi Pemuda
Ciptaan A. Simanjuntak

note: posting dalam rangka 80 tahun sumpah pemuda

Website tidak bisa diakses tanpa www

October 24th, 2008

Siang tadi saya menyempatkan untuk meberikan saran kepada pengelolah website Atmajaya, karena website mereka mengalami masalah akses apabila diakses tanpa menggunakan www. Saya mengetahui masalah yang dihadapi oleh pihak Atmajaya dari website Media Konsumen yang saya kunjungi.

Pada dasarnya, sayang sekali apabila website yang kita miliki tidak dapat diakses secara optimal, dalam hal ini tidak dapat diakses tanpa menggunakan www didepan nama domain yang ada. Masalah akses ini dapat diatasi dengan cara mensetting dns agar juga mengenali website tanpa menggunakan www.

Untuk contoh diatas, dapat diset dengan cara menambahkan

IN A RECORD atmajaya.ac.id

kedalam dns setting.

Jangan Asal

October 24th, 2008

Setelah berakhirnya tayang TV berbayar Astro di Indonesia, perang tv berbayar untuk memperebutkan pelanggan yang telah ditelantarkan telah dimulai. Hari ini Indovision mengeluarkan iklan di Kompas (23 Oktober 2008) dengan tagline “Jangan Asal”, yang intinya menyatakan agar pelanggan tidak asal memilih berlangganan tv berlangganan.

Sebagai pelanggan Indovision, cukup menarik untuk mengomentari iklan yang dibuat oleh Indovision yang berusaha mencitrakan Indovision sebagai layanan Tv berbayar yang terbaik, semoga saja layanan yang diberikan tidak memburuk dengan semakin banyaknya jumlah pelanggan dan semoga kedepannya Indovision bisa memberikan layanan akses internet :p.

Jejak Pendapat Website

October 22nd, 2008

Memanfaatkan domain yang menganggur dari tahun lalu, lahirlah website Jejak Pendapat (seharusnya jajak pendapat), website ini ditujukan untuk mendapatkan hasil polling mengenai issue sosial yang sedang hot atau ngetrend di Indonesia.

Untuk saat ini topik polling yang ada adalah mengenai RUU Pornografi, dan sudah mendapatkan hasil polling dari 58 user dengan sebagian besar tidak setuju RUU tersebut untuk di sahkan.

Bagi yang tertarik dengan topik RUU Pornografi beserta pro kontra pengesahannya, silakan kunjungi Jejak Pendapat, dan jangan lupa isi komentar untuk mengemukakan pendapat anda.

Nomer Induk Siswa Nasional

October 14th, 2008

Menurut sumber dari Web Diknas

NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) adalah kode pengenal siswa yang bersifat unik dan membedakan satu siswa dengan siswa lainnya. Penerapan kode pengenal siswa selama ini masih belum ada standar yang baku. Aturan penyusunan kode pengenal siswa antar satu sekolah bisa berbeda dengan sekolah lain. Dengan mekanisme pemberian kode pengenal siswa yang tidak baku secara nasional, maka rentan terjadinya data siswa ganda yang pada akhirnya sulit untuk mendata secara akurat data siswa-siswa di Indonesia.

Tujuan dari NISN ini adalah baik adanya tapi ternyata dalam prakteknya data hasil pendataan dapat diakses secara publik, data pribadi yang meliputi nama lengkap, jenis kelamin, tempat lahir, tanggal lahir, dan alamat dapat secara bebas didownload dari website diknas bagian Data Siswa

Setelah kontroversi mengenai data yang tersebar ini (bisa baca beritanya di Detik), akhirnya diknas mengubah data yang ditampilkan dan dapat didownload hanyalah data nomer nisn, nama lengkap, dan kelas saja.

Satu quote yang menarik dari berita detaik diatas adalah

Menanggapi hal itu, Muhajir mengatakan, kekhawatiran dari para blogger ini adalah masukan yang bagus dan bakal segera dikoordinasikan dengan unit terkait.

“Tapi ini kan masih sebatas kekhawatiran, sudah terbukti belum? Kalau sudah terbukti silahkan diinformasikan, kami di diknas siap menampung keluhan,” tandasnya

Berbaik sangka ada baiknya, tapi saya pribadi akan menentang habis apabila data pribadi saudara saya yang masih sekolah dapat diakses publik dan ada kemungkinan dimanfaatkan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab.

Semoga saja data yang sudah tersebar sebelumnya tidak digunakan untuk tujuan buruk oleh pihak yang sudah mendownloadnya, dan untuk pihak diknas sebaiknya tidak memberikan jawaban provokatif seperti diatas agar masalah tidak menjadi semakin panjang.

Satu hal yang unik adalah seorang siswa sma menggunakan data diknas untuk mengingat hari ulang tahun teman-temannya, blog siswa itu dapat diakses di sini

Berharap akan situasi yang lebih baik

October 13th, 2008

Bulan Oktober 2008 ini, ekonomi indonesia mengalami kondisi yang buruk ditandai dengan nilai tukar rupiah yang rendah terhadap dollar amerika ( 1 USD > 9800 IDR), dan BI rate = 9.5 %. Kondisi ini menyebabkan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan software dan penyewaan server seperti Birumerah mengalami masa yang sulit :( .

Kesulitan ditimbulkan karena banyak services (sewa rak, sewa bandwidth) dan pembeliaan hardware yang menggunakan mata uang dollar amerika, sedang biaya service yang dijual ke customer tidak bisa mengalami kenaikan yang significant agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.

Cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk survive adalah dengan melakukan invasi baru untuk meningkatkan penjualan service yang dihasilkan.

Jadi, bagi yang berminat untuk service berikut:
- Sewa server dedicated
- Pembelian software SMS Server (dapat dikostum sesuai dengan kebutuhan)
- Pembelian software POS Online untuk perusahaan retail

Silakan hubungi kami di sales@birumerah.com

When Giants Learns to Dance: The IBM Story

October 4th, 2008

Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas

“Transformation of an enterprise begins with a sense of crisis or
urgency”. Itulah yang dikatakan Lou Gerstner, orang yang berhasil
melakukan corporate turnaround pada IBM ketika raksasa komputer ini
sedang mengalami krisis.

Memang, ketika Gerstner diangkat sebagai CEO dan Chairman IBM pada
April 1992, perusahaan ini sedang di ambang kehancuran. Pada Januari
1993, IBM mengumumkan kerugian sebesar 5 milyar dollar AS selama tahun
1992! Itulah kerugian terbesar dalam satu tahun yang pernah dialami
oleh sebuah perusahaan sepanjang sejarah Amerika. Masalah yang menimpa
IBM ini menjadi perhatian banyak kalangan. Betapa tidak, IBM sudah
menjadi salah satu ikon bisnis Amerika dan dunia.

Sejarah panjang IBM dimulai saat perusahaan ini didirikan pada tahun
1896 di New York. IBM mulai tumbuh dengan pesat sejak tahun 1935
ketika mendapat kontrak dari pemerintah untuk mengelola data pekerjaan
26 juta orang. Pada tahun 1950-an, IBM mendapat kontrak yang cukup
besar dari Angkatan Udara Amerika (USAF)

Maka, lanskap bisnis yang ada saat itu cukup menguntungkan bagi IBM.
Selama masa-masa awal ini praktis IBM tidak punya pesaing. IBM juga
sudah punya pelanggan captive pada sektor pemerintahan.

Kisah sukses IBM ini berlanjut sampai tahun 1960-an. Saat itu terdapat
delapan perusahaan yang menguasai industri komputer. IBM merupakan
perusahaan terbesar; pada tahun 1964 perusahaan ini memproduksi
sekitar 70% dari seluruh komputer yang ada.

Tujuh perusahaan lainnya adalah UNIVAC, Burroughs, NCR, Control Data
Corporation, General Electric, RCA, dan Honeywell. Karena ukuran IBM
yang jauh lebih besar dibanding tujuh perusahaan lainnya, maka muncul
istilah ”IBM and the Seven Dwarfs” pada industri komputer saat itu.

Pada dasawarsa 1960-an inilah IBM mulai mengukuhkan posisinya sebagai
produsen mainframe computer terkemuka dengan produknya IBM System/360.

Sampai era 1980-an, IBM memproduksi sendiri hampir semua komponen
mainframe computer-nya, mulai dari prosesor, sistem operasi,
peripherals, dan sebagainya. Strategi integrasi-vertikal ini berakhir
ketika IBM mulai mengalihkan pembuatan dua komponen penting ke
perusahaan lain, yaitu sistem operasi ke Microsoft dan microprocessor
ke Intel. Alasannya adalah untuk mempercepat waktu pembuatan personal
computer (PC) yang pasarnya waktu itu mulai tumbuh.

Pada akhir 1980-an ini mulai terlihat bahwa pertarungan di industri
komputer saat itu adalah antara model bisnis integrasi-vertikal
seperti IBM, lawan model tersegmentasi seperti Intel (microprocessor),
Microsoft (software), HP (printer) atau Seagate (disk drives).

Melihat hal ini, CEO IBM saat itu, John Akers, mulai memecah IBM
menjadi unit-unit bisnis yang otonom. Tujuannya untuk bersaing secara
lebih efektif dengan para pesaing tadi yang lebih fokus dan punya
struktur biaya yang lebih murah.

IBM mulai limbung ketika pasar komputer mulai didominasi oleh PC,
bukan lagi mainframe. Para pesaing IBM seperti Compaq dan Dell yang
lebih siap semakin kuat posisinya. Pertumbuhan yang ada di bisnis PC
IBM sendiri tidak mampu menutupi penurunan revenue yang terjadi pada
bisnis mainframe-nya. Karena itulah, pada akhirnya IBM mengalami
kerugian yang sangat besar pada tahun 1992 seperti sudah disebutkan di
atas.

Gerstner bertindak cepat agar IBM tidak kolaps. Berbeda dengan John
Akers, Gerstner mengintegrasikan kembali divisi-divisi utama IBM untuk
lebih fokus kepada servis ketimbang produk. Bisnis IBM mulai beralih
dari bisnis komponen dan hardware ke bisnis software dan
servis.Langkah Gerstner ini kemudian diteruskan oleh Sam Palmisano,
CEO IBM berikutnya.

Pada tahun 2002 IBM memperkuat bisnis servisnya dengan mengakuisisi
divisi konsultansi dari PricewaterhouseCoopers. Pada tahun 2004 IBM
juga menjual divisi PC-nya yang rugi terus ke Lenovo Group.
Berikutnya, pada tahun 2007 IBM menjual divisi printing-nya ke Ricoh.
Semua ini menunjukkan bahwa IBM memang benar-benar ingin fokus ke
bidang servis, software, dan konsultasi, bukan lagi ke hardware.

Bisa kita lihat, perubahan lanskap bisnis yang tidak menentu bisa
membuat perusahaan sekelas IBM hampir tumbang. Perkembangan teknologi
yang pesat pada akhir 1980-an membuat para pesaing IBM bisa membuat PC
dengan harga lebih murah sehingga bisa menjadi produk massal. Namun,
IBM tidak siap dan masih mengandalkan mainframe computer yang harganya
mahal dan berukuran besar.

Inilah perbedaan antara IBM dan GE yang saya ceritakan kemarin.
Keduanya sama-sama perusahaan raksasa. Namun GE mampu melakukan
“creative destruction” sebelum terlambat, sedangkan IBM sudah
terlanjur rugi besar.

Memang, kesuksesan masa lalu tidak menjamin kesuksesan di masa depan.
Hanya orang-orang yang mau berubahlah yang akan bertahan dan sukses di
lanskap New Wave yang berubah sangat cepat ini.

Control Your Destiny or Someone Else Will: The GE Way

October 4th, 2008

Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas

GENERAL Electric (GE) adalah salah satu perusahaan yang dikagumi
banyak orang, termasuk saya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari
perusahaan ini. Berbagai buku tentang GE juga telah ditulis, termasuk
karya Noel Tichy dan Stratford Sherman yang menginspirasi judul
tulisan ini, Control Your Destiny or Someone Else Will.

Satu hal yang menarik diamati adalah perubahan yang terjadi di GE
sejak era Jack Welch sampai Jeff Immelt sekarang. Begitu diangkat
sebagai CEO dan Chairman GE pada tahun 1981, Welch bergerak cepat.
Sepanjang dasawarsa 1980-an, Welch bekerja keras merampingkan GE dan
membuatnya jadi lebih kompetitif. Welch dikenal sangat terobsesi
dengan shareholder value. Pidatonya yang berjudul a Growing Fast in a
Slow-Growth Economy menunjukkan dengan jelas obsesi Welch ini.

Welch mendorong para manajernya untuk bekerja lebih produktif. Ia juga
memangkas birokrasi untuk meningkatkan efisiensi. Welch juga tidak
segan-segan memecat karyawan yang dianggap tidak memiliki kinerja yang
bagus.

Hasilnya? Secara finansial GE sukses besar di bawah kepemimpinan
Welch. Pada tahun 1980, sebelum era Welch, revenue GE sekitar 26,8
milyar dollar AS. Pada tahun 2000, satu tahun sebelum Welch pensiun,
revenue-nya meningkat pesat menjadi 130 milyar dollar AS!

Nah, setelah era Welch berakhir pada tahun 2001, giliran Jeff Immelt
yang memimpin GE. Sama seperti Welch, Immelt pun langsung melakukan
transformasi. Immelt melihat bahwa GE cenderung sudah tidak inovatif.
Ia menilai bahwa obsesi GE terhadap bottom-line results dan
kecenderungan untuk memecat orang yang tidak mampu memenuhinya”warisan
dari Welch”akan membuat para eksekutif GE tidak berani mengambil risiko.

Maka, Immelt ingin agar GE lebih berani mengambil risiko, lebih
memperhatikan soal pemasaran, dan yang lebih penting, lebih berani
melakukan inovasi. Beda dengan era Welch sebelumnya yang menekankan
soal efisiensi, pemotongan biaya, dan ketrampilan melakukan deal-deal
bisnis. Hal ini mau tidak mau memang harus dilakukan. Lanskap bisnis
pada era Welch berbeda dengan era Immelt.

Pada era Welch, ekonomi Amerika tumbuh pesat pada tahun 1990-an saat
dipimpin Bill Clinton. Sementara Immelt harus menghadapi masa-masa
pasca peristiwa serangan teroris 9/11, ekonomi domestik Amerika yang
pertumbuhannya lebih lambat di bawah kepemimpinan George W. Bush, para
investor yang lebih demanding karena baru saja mengalami dotcom bomb,
dan juga pesaing-pesaing global yang lebih banyak.

Bisa kita lihat bagaimana perusahaan sekelas GE pun terus berubah
sesuai dengan perubahan lanskap bisnis yang dihadapi. Kebetulan
MarkPlus Institute of Marketing (MIM) sendiri tahun 2007 lalu pernah
diminta untuk memberikan pelatihan bagi para eksekutif GE Asia di tiga
kota sekaligus: Singapura, Shanghai, dan Sydney. Jadi, sedikit banyak
saya juga bisa belajar dari orang-orang GE sendiri.

Saya sendiri pernah menginap semalam di Kantor Pusat GE di Fairfield
Connecticut, Amerika. Saya juga pernah dua kali diundang ke
Crotonville, corporate university-nya GE. Kampus yang didirikan pada
tahun 1956 ini sekarang namanya John F. Welch Leadership Development
Center, untuk menghormati Jack Welch yang sudah pensiun.

Di Crotonville inilah para karyawan GE, mulai dari karyawan baru
sampai ke jajaran top management, digembleng dengan berbagai program
pendidikan. Selain Six Sigma, program penting lainnya adalah Change
Acceleration Process (CAP). CAP yang merupakan inisiatif Jack Welch
ini bertujuan untuk menyiapkan para manajer GE agar mampu mengelola
proses perubahan secara lebih efektif.

Welch memang telah membangun fondasi yang kuat di Crotonville ini.
Perusahaan yang kuat itu bukan perusahaan yang ukurannya besar semata,
namun perusahaan yang orang-orangnya siap berubah setiap saat.

Untuk menghadapi perubahan eksternal, sebuah perusahaan sebelumnya
harus bisa melakukan perubahan internal. Perubahan internal ini ada
tiga jenis, yaitu Political Change, Technical Change, dan Cultural Change.

Political Change adalah perubahan di tingkat manajemen puncak. Para
pengambil keputusan harus benar-benar mendukung program perubahan
internal yang sedang terjadi. Technical Change merupakan perubahan
yang menyangkut aspek-aspek seperti strategi, sistem, struktur, dan
sebagainya. Technical Change ini biasanya disusun oleh sekelompok
kecil orang yang memang ahli dalam bidangnya.

Sementara itu, Cultural Change adalah perubahan budaya korporat yang
menyangkut seluruh karyawan tanpa kecuali. Nilai-nilai (values) dan
perilaku (behaviour) baru musti dijalankan dengan konsisten.

GE telah melakukan ketiga perubahan internal tersebut dan hasilnya
bisa sama-sama kita lihat. Jadi, hanya perusahaan yang siap berubahlah
yang akan mampu bertahan di lanskap New Wave ini.