MENGIKUTI Republican National Convention (RNC) di Minneapolis-Saint
Paul memang terasa bedanya dengan Democratic National Convention (DNC)
di Denver.

John McCain bisa menyusul rating Barack Obama di polling dengan cara
mengkontraskan dirinya.

Di DNC, Obama dan pembicara lain selalu menekankan bahwa Demokrat akan
memberikan presiden yang merakyat. Sedangkan di RNC, John McCain dan
pendukungnya justru terus-menerus menekankan bahwa negara dan
patriotisme adalah segalanya.

Karena McCain adalah mantan tawanan perang di Vietnam, maka inilah
modal terbesarnya yang bisa dikembangkan jadi tema kampanye.

Sedangkan George W. Bush yang sekarang lagi jadi ”lame duck president”
mengingatkan bahwa McCain yang pahlawan perang inilah yang nantinya
bisa menjaga Amerika dari terorisme.

Bahkan Joe Lieberman, senator Independen yang mantan running mate John
Kerry dari Demokrat empat tahun lalu, tidak segan-segan mengatakan
bahwa McCain adalah calon presiden yang dihormati di dalam negeri dan
ditakuti musuh.

Selain itu, musik-musik heroik yang berirama mars terus-menerus
dimainkan di RNC dan banyak veteran perang dengan peci khasnya hadir
di situ.

Benar-benar kontras dengan DNC yang selalu berirama kerakyatan.

Stadion yang dipakai sama-sama penuh, tapi yang lebih penting adalah
media elektronik dan Internet.

CNN dan Fox menyiarkan acara tersebut ke seluruh dunia. Bahkan, TV
non-Amerika seperti BBC dan Al Jazeera juga menyiarkannya.

Belum lagi kalau kita bicara radio dan suratkabar.

Yang lebih seru lagi tentunya Internet.

Lewat Blackberry, saya bisa terus mengikuti perkembangan persaingan
politik itu dari mana pun.

Termasuk reaksi dari publik dan lawan mereka.

Itulah New Wave Landscape yang bersifat Digital, Global, dan Future
seperti telah dibahas kemarin.

Nah, para New Wave Marketer, sudah waktunya Anda belajar dari para
politisi dalam me-marketing-kan idenya.

Apapun yang Anda katakan tentang produk Anda bisa direaksi dengan
cepat dan instan oleh pesaing dan publik.

Lihat saja, bagaimana dengan gampangnya LSM mengkritik suatu produk
tertentu secara terbuka.

Publik yang komplain tidak usah menunggu surat pembacanya dimuat oleh
media massa, tapi malah bisa membuat media mereka sendiri. Kalau tidak
puas terhadap suatu produk atau servis, orang tinggal mengirim e-mail
ke milis atau berkomentar di blog.

Data terkini dari Technorati menunjukkan bahwa ada 175 ribu blog baru
yang diciptakan setiap hari; sehingga saat ini tercatat ada 112,8 juta
blog! Selain itu, para blogger ini juga memasukkan post baru sebanyak
1,6 juta per hari.

Tentu saja, blog-blog ini isinya macam-macam.

Ada yang merupakan blog dari fans berat sebuah merek. Misalnya saja
”The Nokia Blog” yang dibuat oleh Mark Guim. Mahasiswa Universitas
Pace AS berusia 23 tahun ini bukanlah karyawan Nokia dan dia juga
tidak dibayar oleh Nokia. Namun, saking nge-fans-nya dia terhadap
produk-produk Nokia, Guim pun membuat blog yang sangat populer di
kalangan pengguna Nokia ini.

Namun, tidak sedikit pula blog yang mengkritik merek tertentu. Yang
paling terkenal adalah blog ”The Buzz Machine” yang pernah mengkritik
keras perusahaan raksasa komputer Dell.

Jeff Jarvis, seorang jurnalis senior Amerika yang membuat blog
tersebut, pada Juni 2005 memasukkan post yang isinya mengkritik keras
customer support Dell. Di dalam blog-nya tersebut, saking jengkelnya,
ia menggunakan istilah yang kemudian sangat terkenal, ”Dell Hell”.

Tanggapannya ternyata luar biasa. Sampai-sampai, komplain Jarvis
tersebut, hanya dalam waktu dua hari setelah muncul di blog-nya,
kemudian dipublikasikan di surat kabar The New York Times dan juga
diterbitkan di majalah Business Week!

Menakjubkan, bukan, bagaimana seseorang lewat blog-nya mampu
mempengaruhi citra sebuah perusahaan raksasa sekelas Dell?

Jadi, jangan pernah anggap sepele pendapat-pendapat tentang merek atau
produk Anda yang ada di Internet, khususnya di blogosphere!

Kejadian di satu tempat juga dengan cepat merambat kemana-mana karena
globalisasi informasi.

Mendadak saja, masa lalu produk atau brand kita jadi kurang relevan.

Yang lebih penting adalah, apakah produk atau brand kita masih relevan
di masa depan.
Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca online di Kompas

Percuma saja Anda membangga-banggakan kehebatan produk Anda di masa
lalu. Karena, cerita tentang kehebatan itu bisa hilang dalam sekejap
mata lewat Internet seperti contoh ”Dell Hell” tadi.

Dengan demikian, kalau Anda mau jadi New Wave Marketer jelas harus
jadi Digital Marketer, Global Marketer maupun Future Marketer!

Walaupun produk yang dijual cuma produk non-digital, lokal, dan masih
produk masa lalu.