Archive for the ‘religi’ Category

Hidup Bagai Putaran Roda

Posted on September 14th, 2007 in religi | No Comments »

Hidup bagai roda, kadang ada di atas kadang ada di bawah.

Ada kala kita menjalani lembaran kehidupan yang sulit, ada kalanya kita menjalani bagian yang menyenangkan,

dimanapun kondisi kehidupan yang kita alami saat ini, kita harus bisa bersyukur kepada - Nya :)

Selamat Natal 2006

Posted on December 23rd, 2006 in Personal Life, religi | No Comments »

Semoga Natal membawa damai bagi kita semua, dimana kita mendambakan natal yang putih.

Selamat Natal semuanya :).

nb: berikut artikel yang bagus mengenai “Natal Putih”

Merindukan Natal Putih
Oleh Aloys Budi Purnomo
Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang
Membebaskan, Semarang.
Sumber dari kompas online kompas online

====================

Bukan hanya Irving Berlin yang memimpikan “Natal Putih”, seperti
dituturkan dalam lagu, White Christmas.

Salah satu harapan yang diungkap dalam lagu yang dibuat pada awal
tahun 1940 dan dinyanyikan Bing Crosboy pada tahun 1942 dalam musical
Holiday Inn itu dirumuskan dengan kalimat, “May your days be merry
and bright. And may all your Christmases be white.”

Kita pun merindukan “Natal Putih”! Mengapa? Apa artinya untuk kita?
Apa maknanya untuk masyarakat luas?

Natal dan bencana

Natal tahun ini adalah unik. Pertama, untuk pertama kali, korban
gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami Natal dalam keprihatinan.
Tidak sedikit dari mereka yang sejak bencana hingga kini masih
berteduh di bawah tenda dan rumah darurat.

Warga korban gempa di Desa Ambar Ketawang, Kecamatan Gamping,
Kabupaten Sleman, masih tinggal di tenda dan rumah sementara. Mereka
gelisah. Atap tempat mereka berteduh bocor. Mereka mengharap bantuan
terpal karena mulai rusak (Kompas, 19/12/2006).

Kedua, ketika korban bencana di Yogyakarta dan Jawa Tengah belum
pulih, warga Solok, Sumatera Barat tertimpa galodo, tanah longsor.
Warga Pulau Palue, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terhantam gempa
yang merusakkan 93 bangunan (Kompas, 19/12/2006).

Menyusul gempa di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada
Senin (18/12/2006). Banyak korban luka, tenda-tenda darurat dibangun
di sekitar Kantor Kecamatan Muara Sipongi, Mandailing Natal, guna
menampung 2.000 lebih pengungsi (Kompas, 19/12/2006).

Ketiga, khusus untuk Yogyakarta, ada tiga gedung gereja yang hancur
akibat gempa dan hingga hari ini belum terbangun kembali. Mereka akan
merayakan Natal 2006 seperti keaslian natal perdana 2006 tahun silam,
saat Yesus lahir di tempat darurat! Kiranya hal ini terhayati bukan
dengan ratapan, tetapi tetap dengan harapan dan sukacita!

“A White Christmas”

Data-data itu mengetuk nurani untuk peka terhadap mereka yang
tertimpa bencana!

“Natal Putih” adalah natal yang bersih, kendati terjadi di tengah
keadaan darurat! “Natal Putih” adalah natal yang ditandai
kesetiakawanan dan semangat belarasa kepada mereka yang menderita,
kecil, lemah, miskin dan tersingkir.

“Natal Putih” adalah natal yang penuh damai sejahtera, meski terjadi
dalam kondisi darurat, penuh derita dan sengsara. Justru di tengah
krisis dan keprihatinan sosial pada masa natal perdana ditandai damai
sejahtera.

Melanjutkan pesan natal perdana, Konferensi Waligereja Indonesia
(KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengajak umat
Kristiani di Indonesia untuk menjadikan damai sejahtera natal sebagai
kesempatan mewujudkan persatuan, kesatuan dan kerukunan dalam
keberagaman.

Damai natal menjadi cita-cita umat manusia sepanjang masa. Kenyataan
pada natal perdana dan sekarang, tidak jauh berbeda. Kehidupan
dicekam berbagai kekhawatiran dan ketakutan. Kehidupan sosial,
politik, ekonomi berat. Bencana dan penyakit melanda. Rakyat
mengalami ketertindasan penguasa. Itulah suasana kehidupan saat natal
perdana terjadi 2006 tahun lampau.

Suasana yang sama masih terjadi di banyak tempat hari-hari ini,
termasuk di negeri kita. Kemiskinan, korupsi, kekerasan,
ketidakadilan, masih menjadi persoalan yang terus dihadapi masyarakat
kita bersama pemerintah dan elite politik kita.

Maka, bagi bangsa ini pun, gema kerinduan mewujudkan kehidupan
bersama yang penuh damai sejahtera masih signifikan dan relevan.

Mewujudkan damai

Untuk menghayati “natal putih” sehingga hari-hari kita cerah bersinar
kendati di tengah pencobaan, tak ada jalan lain kecuali dengan
menjadikan momen natal sebagai upaya mewujudkan damai sejahtera
Kristus kepada sesama.

Untuk itu, imbauan KWI dan PGI perlu menjadi perhatian. Natal akan
menjadi perwujudan damai sejahtera bila kelima hal berikut terjadi.

Pertama, kita mampu merobohkan tembok-tembok pemisah yang selama ini
menyebabkan adanya sikap terlalu mementingkan diri atau kelompok.

Kedua, mari menghayati kehidupan yang lebih terbuka dan bersahabat
sebagai sumbangan nyata bagi terwujudnya Indonesia baru yang
berkeadaban.

Ketiga, kita mampu mengungkapkan kebenaran tanpa takut dan gentar,
memperjuangkan kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera, menghargai
Hak Asasi Manusia, dan menegakkan hukum yang berkeadilan.

Keempat, upayakan terus penggalangan hubungan dan kerja sama dengan
seluruh warga bangsa, dengan tetap menghargai kemajemukan, kekayaan
budaya bangsa, dan senantiasa bertekun dalam mempertahankan dasar
Negara Pancasila.

Kelima, perjuangkanlah kesejahteraan ekonomi bersama karena tidak ada
damai selama tidak ada perbaikan ekonomi dan selama sebagian besar
warga bangsa ini hidup dalam belenggu kemiskinan.

Marilah kita wujudkan kerinduan kita akan perayaan natal yang putih
dan bersih, ditandai belarasa dan kerukunan di antara kita bersama.
Selamat Natal!

Ekaristi

Posted on May 29th, 2005 in religi | No Comments »

Mane Nobiscum Domine
“Tinggallah Bersama Kami, Tuhan!”
Luk 24:29

Tahun Ekaristi

Apa itu Tahun Ekaristi?

Tahun untuk secara istimewa mendalami, merayakan, dan menghormati Sakramen Ekaristi, agar umat dapat menghayatinya secara lebih mantap dan mengamalkannya secara lebih berdaya guna dalam kehidupan sehari-hari.

Selama Tahun ekaristi ini umat Katolik mengadakan doa-doa, renungan, devosi, dan pendalaman iman yang berkaitan dengan Misteri Ekaristi.

Bagaimana dengan Tahun Ekaristi kali ini?

“Mane Nobiscum Domine”, yang artinya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami” (Luk 24:29) adalah surat Apostolik PausYohanes Paulus II yang mengumumkan Tahun Ekaristi yang berlangsung dari Oktober 2004 hingga Oktober 2005. Tahun Ekaristi ini dibuka resmi pada tanggal 17 Oktober 2004, dengan perayaan Ekaristi penutupan Kongres Ekaristi Internasional yang diadakan di Guadalajara, Meksiko. Tahun Ekaristi akan ditutup bersamaan dengan Sinode para Uskup di Roma pada bulan Oktober 2005 nanti dengan tema Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak dari hidup dan Perutusan Gereja.

Ekaristi

Berasal dari bahasa Yunani “eucharistia”, artinya “syukur”, merupakan ucapan syukur atas karya penebusan dan kenangan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Dalam Ekaristi, Tuhan Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur (lih. Luk 22:19), Puncak Liturgi adalah Ekaristi.

Apakah Ekaristi sama dengan Misa?

Dalam percakapan sehari-hari, kata misa dipahami dalam arti Perayaan Ekaristi. Kata misa berasal dari rumus penutup Perayaan Ekaristi dalam bahasa latin: “ite, missa est”: “Pergilah, misa sudah selesai”. Tata Perayaan Ekaristi (TPE) memasukkan unsuk “pengutusan” ke dalam bagian akhir TPE ini. Untuk itu TPE baru menampilkan rumus: “Marilah pergi, Kita diutus”.

Dengan merayakan Ekaristi…

Kita bertemu dengan Tuhan Yesus, baik melalui Sabda-Nya maupun Tubuh-Nya. Selain itu, kita dipersatukan sebagai umat Allah.

Mengapa kita wajib merayakan Ekaristi di Hari Minggu dan Hari Raya?

  • Bersama seluruh umat beriman kita merayakan dengan penuh syukur karya penyelamatan Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus lewat peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya; Yesus sendiri bersabda, “… lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” (bdk. Luk 22:19)
  • Bersama umat beriman lainnya kita mengucap syukur karena dari hari Senin sampai Sabtu kita sudah diberi kekuatan, kesehatan, perlindungan, rejeki, dan lain-lain (bdk. Kis 2:46)
  • Sepuluh Perintah Allah yang ke-3 mengatakan “Kuduskanlah Hari Tuhan”.
  • Lima Perintah Gereja yang ke-2 mengatakan “Ikutlah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu”.
  • Struktur Perayaan Ekaristi …

    Dua bagian: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Sehingga merupakan satu tindakan ibadat. Sebab dalam Perayaan Ekaristi itu Sabda Allah dihidangkan untuk menjadi pengajaran bagi umat dan Tubuh Kristus menjadi santapan bagi orang-orang beriman.

    tahukah Anda?

  • Hanya Imam, oleh karena tahbisannya yang bisa memimpin Ekaristi
  • Ekaristi berbeda dengan Ibadat Sabda. Disebut Ekaristi bila ada Imam, Doa Syukur Agung (DSA), dan Komuni
  • Orang boleh merayakan Ekaristi 2 kali dan menerima Komuni Kudus 2 kali pula dalam hari yang sama
  • Hanya orang yang sudah dibabtis secara Katolik atau diterima ke dalam Gereja Katolik dan telah menerima Komuni Pertama yang boleh menerima Komuni Kudus dalam Perayaan Ekaristi
  • Kolekte (derma) dalam Perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik tidak dibatasi dalam “persepuluhan”, tetapi “suka rela” artinya tidak hitung-hitungan, tetapi tulus (mungkin bisa kurang dan atau bisa lebih dari “persepuluhan”)
  • Rumusan doa pengampunan pada bagian awal Perayaan Ekaristi tidak berarti umat tidak perlu Sakramen Tobat. Bahkan yang punya dosa berat disarankan menerima Sakramen Tobat dahulu, agar layak menyambut Tubuh dan Darah-Nya
  • Tips Merayakan Ekaristi

  • Berpuasa 1 jam sebelum mengikuti Perayaan Ekaristi
  • Hadir lebih awal dengan pakaian pantas
  • Persiapkan diri dengan menciptakan waktu teduh di dalam gereja
  • Sadari dan mohon ampun atas kesalahan dan dosa
  • Ikut terlibat dalam menyanyi dan menjawab ajakan pemimpin ibadat
  • Dengarkanlah apa yang Allah ingin beritakan lewat bacaan-bacaan Kitab Suci dan Khotbah Imam
  • Mempersatukan persembahan diri kita dengan roti dan anggur yang akan diubah menjadi tubuh dan Darah Kristus
  • Sembahlah Dia di saat konsekrasi dengan segenap hati dan budi kita
  • Sampaikanlah Salam Damai kepada saudara-saudari kita dengan tulus
  • Terimalah Hosti Kudus dan sapalah Dia secara pribadi dalam hati dan budi kita
  • Ciptakan saat teduh dan doa pribadi setelah Komuni
  • Jangan tinggalkan Perayaan Ekaristi sebelum mendapat berkat penutup lewat imam
  • Bersiaplah menjalani hidup harian kita dengan membagi-bagi berkat Ekaristi yang kita dapatkan
  • kita diutus untuk membawa damai
  • Nb: Disusun oleh Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), dengan beberapa perubahan tanpa mengurangi maksud dari tulisan

    Christian or Catholic or Muslim

    Posted on May 8th, 2005 in religi | No Comments »

    Sempat ngobrol bareng teman soal agama, satu hal keimanan yang saya dapatkan dari hasil diskusi adalah bahwa Kristus lahir ke dunia bukan untuk meng-kristenkan dunia ini. Ia datang lebih untuk membawa perubahan agar umat manusia dapat hidup dengan lebih baik.

    Saat ini bukan saatnya untuk mempermasalahkan perbedaan yang ada antar agama, tapi hal-hal yang lebih penting adalah bagaimana cara untuk bersama-sama berkontribusi untuk membangun dunia yang lebih baik.

    Semoga dunia dapat menjadi tempat yang lebih indah untuk hidup.