Archive for the ‘Personal Life’ Category

File Permission Problem – SuPHP

Posted on August 13th, 2010 in Ubuntu, admin jobs | No Comments »


Saya menghadapi masalah dengan file permission pada file yang diupload dengan menggunakan openX, setiap file gambar yang diupload ke server memiliki permission 600 sehingga tidak dapat diload
secara langsung sebagai gambar oleh apache, dan file tersebut harus di ubah permissionnya menjadi 644 agar dapat diakses.

Permasalahan diatas muncul karena settingan suphp pada server menset umask menjadi 0077 (600) dan bukan 0022 (644), untuk menggantinya, dapat dilakukan setting ulang umask pada:
/etc/suphp/suphp.conf

notes: settingan diatas berlaku pada ubuntu server.

Mulai Nulis Lagi

Posted on April 28th, 2010 in Personal Life | 1 Comment »

Sudah lama sejak terakhir menulis di blog ini :) , mulai hari ini saya akan mencoba mulai menulis lagi dan juga mendokumentasikan beberapa kerjaan terkait dengan admin linux dan teknikal komputer lainnya agar dapat diakses oleh pembaca blog ini, dan juga staf Birumerah Technology lainnya.

Good Bye Sun

Posted on January 29th, 2010 in Personal Life | 1 Comment »

Baru sadar pagi ini, website www.sun.com sudah tidak ada, dan sebagai gantinya diredirect ke website http://www.oracle.com/index.html

Setelah sekian lama pakai java, netbeans, glassfish, virtualbox, mysql, ada sedikit rasa kehilangan :( .
Semoga dengan dimulainya full akusisi sun oleh oracle, semua produk diatas akan tetap sama dan mengalami peningkatan kwalitas.

Plugins WP Kurs BCA

Posted on November 4th, 2009 in Personal Life | 4 Comments »

Untuk suatu keperluan saya membutuhkan suatu cara untuk mengambil informasi dari http://www.klikbca.com/individual/silver/ind/rates.html berupa informasi nilai tukar mata uang asing ke mata uang indonesia.

Berdasarkan penjelasan dan contoh program dari Pak Arief, saya akhirnya berhasil membuat plugins wordpress yang dapat menampilkan data kurs mata uang asing sebagai berikut:

3-Sep-2010 / 07:07 WIB
Jual
Beli
USD
9080.00 8930.00
SGD
6755.05 6620.05
HKD
1169.20 1147.90
CHF
8977.80 8802.80
GBP
14006.40 13722.40
AUD
8270.90 8098.90
JPY
108.21 105.40
SEK
1260.50 1228.90
DKK
1575.50 1532.60
CAD
8635.95 8449.95
EUR
11654.35 11434.35
SAR
2430.85 2371.85
NZD
6503.85 6342.85
CNY
1335.45 1311.15

Frozen Yogurt

Posted on September 27th, 2009 in Personal Life, Review Makanan | No Comments »

Frozen Yogurt atau froyo sedang ngetrend di kota besar Indonesia. Salah satu tempat penjualan froyo yang memiliki konsep unik dan baru dibuka di EX MALL 1st Floor adalah Yogulicious Yogulicious. Konsep yang ditawarkan adalah serve by your self, dengan memilih dua jenis cup ukuran sedang ataupun large, kita dapat memilih beberapa rasa yogurt yang disediakan dari original, strawberry, lyche, sampai dengan mango dengan pilihan topping yang beraneka macam.

Sebagai pendatang baru yang menjual frozen yogurt, Yogulicious harus bersaing dengan pemain yang sudah memulai lebih dahulu seperti Sour Sally, Tutti Frutti, dan JCO. Optimis saya, dengan konsep yang diusung, Yogulicious akan dapat lebih diterima oleh orang yang lebih suka melayani diri sendiri dan berkreasi terhadap campuran yogurt – topping.

Kita tunggu pemain froyo lainnya beserta inovasi yang dibawa :)

64 Tahun Indonesiaku

Posted on August 16th, 2009 in Personal Life, mellow, social concern | No Comments »

64 Tahun Indonesiaku …

Pada hari kemerdekaan ini, satu lagu yang terngiang di kuping adalah lagu ciptaan Bapak Ismail Marzuki,

Indonesia Pusaka
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

Merdeka Indonesiaku…. Merdeka !!!

Pemberitahuan tentang beberapa domain .id tidak dapat diakses

Posted on June 5th, 2009 in Birumerah Technology, admin jobs | No Comments »

Pengguna nama domain .id,
Kami mendapatkan informasi mengenai adanya beberapa nama domain yang mengalami kendala dalam mengakses alamat domain .id pada tanggal 4 juni 2009 jam 11.36.
Dan untuk sekarang ini PANDI sedang melakukan pengecekan letak permasalahan tersebut.
Akan kami informasikan lebih lanjut apabila ada perkembangannya kemudian.
Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Terima kasih telah menggunakan .id

Kutipan diatas adalah secuil pengumuman di website Pandi – Pengelolah Nama Domain Internet Indonesia, sebagai salah satu pihak yang kena dampaknya, semoga saya mendapatkan bonus :P

Paket Telkom Speedy Bervariasi

Posted on April 1st, 2009 in admin jobs | 1 Comment »

Tersedia berbagai pilihan paket layanan sesuai dengan kebutuhan di rumah maupun bisnis Anda baik paket jenis time based maupun unlimited dengan pilihan kecepatan yang bervariasi *).

Paket MAIL (Limited 15 Jam 1 Mbps)
Dengan kecepatan 1 Mbps downstream dan 256 kbps upstream dan harga yang murah, paket ini ditujukan untuk pengenalan internet atau untuk pengguna yang jarang menggunakan internet tetapi menginginkan koneksi yang cepat.
Harga : Rp. 75.000,-

Paket CHAT (Limited 50 Jam 1 Mbps)
Dengan kecepatan 1 Mbps downstream dan 256 kbps upstream dan harga yang terjangkau, Anda dapat melakukan koneksi internet dengan kecepatan tinggi dengan durasi yang lebih panjang.
Harga : Rp. 145.000,-

Paket FAMILY (Semi Unlimited 384 kbps)
Dengan kecepatan 384 kbps downstream dan 96 kbps upstream tanpa batas waktu Anda dapat berinternet sepuasnya untuk browsing maupun chatting selama masih dalam batas kuota 3 GB per bulan. Ketika kuota usage tercapai, kecepatan efektif akan diturunkan hingga akhir bulan dan akan kembali ke kecepatan semula pada awal bulan berikutnya.
Harga : Rp. 195.000,-

Paket LOAD (Semi Unlimited 512 kbps)
Dengan kecepatan 512 kbps downstream dan 128 kbps upstream tanpa batas waktu Anda dapat berinternet sepuasnya untuk browsing yang lebih cepat, download, maupun chatting selama masih dalam batas kuota 3 GB per bulan. Ketika kuota usage tercapai, kecepatan efektif akan diturunkan hingga akhir bulan dan akan kembali ke kecepatan semula pada awal bulan berikutnya.
Harga : Rp. 295.000,-

Paket GAME (Unlimited 1 Mbps)
Dengan kecepatan 1 Mbps downstream dan 256 kbps upstream serta alokasi kapasitas ke gateway internasional yang lebih besar cocok untuk penggunaan internet yang dishare hingga ke sekitar 10 pengguna.
Harga : Rp. 645.000,-

Paket EXECUTIVE (Unlimited 2 Mbps)
Dengan kecepatan 2 Mbps downstream dan 512 kbps upstream serta alokasi kapasitas ke gateway internasional yang lebih besar cocok untuk penggunaan internet yang dishare hingga ke sekitar 20 pengguna.
Harga : Rp. 995.000,-

Paket BIZ (Unlimited 3 Mbps)
Dengan kecepatan 3 Mbps downstream dan 512 kbps upstream serta alokasi kapasitas ke gateway internasional yang lebih besar cocok untuk penggunaan internet yang dishare hingga ke sekitar 30 pengguna.
Harga : Rp. 1.695.000,-

*) Saat ini, paket Speedy 2009 baru tersedia untuk lokasi Jakarta dan Jawa Barat (kecuali Cirebon dan Sukabumi). Untuk lokasi lain akan segera menyusul dalam waktu dekat.

Sumber : Telkom Speedy

Selamat Tinggal Film2 Bagus di Bioskop

Posted on March 29th, 2009 in Personal Life | No Comments »

Beberapa lama ini bioskop Indonesia tidak memasang film-film yang ok dari luar, ternyata hal ini berhubungan dengan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.55/PW.204/MKP/2008, tertanggal 25 November 2008, tentang pemanfaatan jasa tekhnik film dalam negeri dalam kegiatan pembuatan dan penggandaan film nasional, serta film impor, yang ditetapkan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2009.

Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di link Kritik Cinema tulisan dari Bapak Yan Widjaya.

Berikut petikan dari link diatas:

Lonceng Kematian bagi Bioskop dan Film di Indonesia 2009

Sebatang pohon mangga simanalagi tengah berbuah lebat. Pada setiap ranting bergayut buahnya. Tiba-tiba Pak Tani memupuk dengan rabuk beracun instan. Seketika pohon itu layu meranggas, buahnya berguguran, dan dalam tempo singkat mati! Itulah perumpamaan yang akan terjadi pada bioskop dan film di Indonesia dalam tahun 2009 sebentar lagi …
Film Indonesia ibarat pohon mangga. Pak Taninya bukan lain daripada Menbudpar Ir Jero Wacik, dan rabuk beracunnya adalah Permenbudpar (Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata) Nomor: PM.55/PW.204/MKP/2008, tertanggal 25 November 2008, tentang pemanfaatan jasa tekhnik film dalam negeri dalam kegiatan pembuatan dan penggandaan film nasional, serta film impor, yang ditetapkan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2009.
Diketahui produksi film Indonesia pada tahun 2008 mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, yakni 150 judul. Dari jumlah sebanyak itu baru sempat tayang di bioskop (sejak tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2008) sebanyak 96 judul. Pukul rata per minggu ditayangkan dua judul baru, selagi film yang termasuk box-office berhasil bertahan di banyak layar selama dua, bahkan tiga bulan!
Hubungan antara bioskop dengan film Indonesia tak ubahnya pengantin baru yang tengah mengenyam bulan madu. Namun masa manis tersebut segera pupus bila Permenbudpar jadi terwujud pada awal tahun baru. Kenapa demikian? Seperti diketahui, semua film lokal menjalani prossesing penyempurnaan, termasuk blow-up dari bahan dasar digital ditransfer menjadi seluloid 35 mm, tata suara, special effects, animation dan colour grading, di laboratorium luar negeri (antara lain di Thailand, India, Hong Kong, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat).
Di negeri kita baru ada dua lab yakni Inter Pratama Studio dan Mitra Lab yang terus terang saja belum mampu baik dalam peralatan maupun tenaga akhlinya untuk melayani prossesing film bioskop.
Lab yang notabene milik Pemerintah, PFN, sudah sekian lama tak berfungsi, semenjak terakhir kali memproses satu-satunya film, Kejar Jakarta (2005), mesinnya yang sudah ketinggalan zaman terancam menjadi besi tua. Sebenarnya ada satu lab lain, Digital Post, namun khusus untuk menggarap film iklan, untuk film bioskop mematok harga sangat mahal, jauh di atas bujet prossesing di luar negeri kendati sudah ditambah dengan biaya akomodasi dan transportasi.

Pro dan Kontra
Pemilik Inter Studio, Rudy S. Sanyoto SE, mengibaratkan Permenbudpar dengan assembling mobil di Indonesia pada era 1970-an. Spontan disanggah HM Johan Tjasmadi, selaku Ketua LSF, “Mobil beda dengan film. Sebab mobil harus dibikin mulai dari mur, ban, sampai mesin. Kalau film sudah bisa dibuat secara utuh dari cerita, skenario, sampai penyutradaraan, tapi prossesingnya belum, harus di luar negeri. Lab dalam negeri belum siap, apalagi belum mendapatkan sertifikat ISO.”
Jadi kalaupun diwajibkan untuk segalanya dilakukan di dalam negeri, Tjasmadi menyarankan kebijakan dalam tiga tahapan;
1.Seluruh lab dalam negeri pada tahun pertama harus menyiapkan diri sampai mendapatkan ISO.
2.Mulai tahun kedua bisa mencetak film produksi dalam negeri dengan cukup sempurna.
3.Maka pada tahun ketiga, eksportir film dari luar negeri tanpa dipaksa pun akan bersedia memilih lab di Indonesia untuk mencetak copy.
“Kalau sekarang dipaksakan berlaku, segalanya bisa macet, impor film stop, bioskop tak mendapat pasokan lagi hingga satu persatu tutup,” tuntas Tjasmadi, “Dan pada gilirannya, karena sudah tiada bioskop lagi, film kita pun otomatis akan terhenti!”
Hatoek Soebroto selaku pemilik Mitra Lab sendiri merasa Permenbudpar tersebut tidak perlu. Terutama karena sebenarnya sudah menumpuk luber pekerjaan yang mesti diselesaikan, nyaris tak tertampung. Kalau tetap dipaksakan bisa sangat berbahaya.
Produser produktif dari StarVision, Ir Chand Parwes Servia membenarkan, “Berbahaya sekali. Dulu film Indonesia terlalu diproteksi, akibatnya malah mengalami mati suri pada tahun 1998. Sekarang setelah sepuluh tahun akan diproteksi lagi dengan cara yang tidak benar. Sangat bisa menewaskan perfilman nasional hanya demi kepentingan studio. Kapasitas lab dalam negeri tidak mencukupi. SDM-nya, mesinnya, akhirnya akan terjadi persaingan tidak sehat. Hakekatnya, otomotif bukan produk kreatif. Ingat, orang yang dipaksa akan merasa tidak nyaman hingga tidak kreatif lagi.”
Mengenai tugas LSF (Lembaga Sensor Film) yang mesti mencegat, semua film yang akan disensor harus diproses di dalam negeri, Parwez menyebut, “LSF ditujukan untuk perlindungan moral masyarakat, sekarang akan dimanfaatkan juga demi kepentingan dagang? Kami selalu mencetak di luar negeri, karena lab dalam negeri belum siap, belum waktunya!”
Nia Dinata, produser-sineas idealis dari Kalyana Shira Film, menyebut Permenbudpar sangat parah, “Peraturan tersebut tidak realistis karena untuk optical sound transfer belum ada di sini. Biasanya optical sound kami bikin di luar, hanya bikin dua married print, selebihnya untuk copy-copy berikut tentu di Indonesia. Kalau saja semua fasilitas sudah ada, juga jumlah lab film paling tidak sudah berdiri lima yang bagus dan kompeten, boleh saja bikin peraturan tersebut. Sekarang baru ada dua lab di Jakarta dan tidak bisa optical sound. Bangkok saja punya lima lab yang lebih memungkinkan sekarang.”
Sebagai sutradara laris yang memproduseri film-filmnya sendiri, Hanung Bramantyo mencela, “Itu keputusan yang tergesa-gesa. Mengingat secara SDM kita belum siap, semestinya yang diperlukan sekarang adalah alokasi pajak untuk membangun dan mensubsidi lab film.”
Jadi kapan sebaiknya Permenbudpar ini diwujudkan? “Mulai tahun 2015, setelah SDM dan infrastrukturnya memadai!” tegas sineas muda ini.
Ody Mulia Hidayat, produser Maxima Pictures yang memproduksi lima film per tahun, kontan menyetujui, “Tidak mungkin direalisir minggu depan! Memangnya kita sudah siap dengan sistem, alat, dan SDM-nya? Mari kita duduk sama-sama dan membahasnya dengan kepala dingin, jangan tergopoh-gopoh. Belajar dulu, umpama orang kuliah, perlu waktu enam tahunlah sedikitnya. Jadi kalau dicanangkan mulai 2009, mestinya menjadi 2015, baru bisa!”
Bagaimana pula dengan penggandaan copy film impor yang mesti dilakukan di lab dalam negeri? Tony Arif dari Camila Internusa Film (yang mengedarkan film-film major company dari Hollywood) berkomentar, “Permenbudpar tersebut terlalu prematur. Seharusnya disosialisasikan lebih dulu sambil mempersiapkan pabriknya yang harus canggih. Sebab film impor dari segi audionya amat hebat.”
Perkara teknis audio memang secara jujur diakui, lab dalam negeri belum nempil menggandakan Dolby, THX, apalagi program gambar 3-D? Rasanya mustahil perusahaan film luar mau meminjamkan master-copynya untuk digandakan di sini. Beberapa tahun lalu, pernah dicoba animasi panjang (untuk bioskop) Dora Emon diduplikasikan lab kita. Hasilnya warna tubuh si robot kucing masa depan bukannya biru cemerlang tapi bluwek keabu-abuan (!). Pembawa filmnya dari Jepang bengong melihat malih warna ini.
Deddy Mizwar selaku Ketua BP2N, menjawab pertanyaan penulis, “Tunggu Yan, hari Selasa depan, akan dikaji segala sesuatunya oleh BP2N, manfaat dan mudaratnya!”
Kesimpulan akhir penulis, bila Permenbudpar yang gegabah tersebut jadi dilaksanakan mulai tanggal 1 Januari 2009, maka lonceng kematian telah ditabuh oleh Menbudpar Ir Jero Wacik untuk membunuh semua bioskop, dan menyusul juga secara langsung segera meremukkan film Indonesia …

* Penulis adalah pengamat film.

Himbauan IM2

Posted on March 2nd, 2009 in Personal Life | 2 Comments »

Baru baca dari Kompas Online:

JAKARTA, SENIN — Penyedia layanan mobile broadband PT Indosat Mega Media (IM2) mengimbau pelanggannya agar menghindari pemakaian aplikasi internet dengan bandwidth besar pada jam-jam sibuk. Pasalnya, IM2 menggunakan sistem internet sharing untuk layanannya.

IM2 sendiri memberikan imbauan ini ke sekitar 300.000 lebih pelanggannya melalui pesan singkat, e-mail, dan website yang di-update setiap minggu. Imbauan ini keluar seiring makin banyaknya pelanggan IM2 yang mengeluhkan buruknya kinerja layanan IM2.

Sebelumnya, IM2 telah menyetop pertumbuhan pelanggan baru di beberapa kota yang sudah mengalami overload kapasitas pengguna, yaitu di Bandung, Depok, Yogyakarta, dan Bali. Namun, di sisi lain IM2 terus bergerak menambah pelanggan di beberapa daerah, seperti Jakarta.

“Kami mengimbau agar pengguna IM2 tidak membuka layanan, seperti video streaming pada jam-jam sibuk karena ini demi kenyamanan bersama,” ujar Indar Atmanto, Direktur Utama IM2 kepada KONTAN, Jumat (27/2).

Tak hanya itu, Indar juga mengaku bakalan terus berkoordinasi dengan Indosat selaku penyedia jaringan untuk terus menambah kuota jaringan yang ada. IM2 melalui Indosat sudah berancang-ancang menambah BTS dari 1.500 BTS menjadi 2.500 BTS. Sayangnya, baru separuh proyek penambahan BTS yang kelar pada bulan April 2009.

Hal tersebut tetap saja membuat nasib pelanggan terkatung-katung sampai penambahan jaringan tuntas. Bagaimana jika pekerjaan pengguna layanan memang memerlukan aplikasi dengan bandwidth besar? Kepada siapa pelanggan IM2 harus mengadu? (Kontan/Aprillia Ika)

Marketing IM2 hebat sekali :P