Archive for the ‘marketing’ Category

Horisontalisasi Politik di Seluruh Dunia

Saturday, September 6th, 2008

Oleh Hermawan Kertajaya, diambil dari Kompas

PERTARUNGAN ketat antara Barack Obama dan Hillary Clinton di pemilihan
pendahuluan Partai Demokrat di Amerika Serikat menunjukkan bahwa
Politics go Horizontal!

Obama mewakili kaum kulit hitam dan Hillary Clinton mewakili kaum
wanita. Kedua kelompok ini adalah etnik dan gender minoritas di sana.

Ini tanda-tanda horisontalisasi politik di negara demokrasi superpower
tersebut.

Di Pemilu Presiden AS bulan November nanti, kita akan sama-sama
menyaksikan pertarungan antara Obama yang sangat Horisontal dan John
McCain yang sangat Vertikal.

Kedua belah pihak memang memposisikan diri secara kuat serta sekaligus
mereposisi pesaingnya. Ketika Obama mengambil kata kunci “Change”, dia
seolah mengatakan bahwa dirinya adalah Masa Depan Amerika.

Maksudnya?

Ya supaya McCain jadi dipersepsi sebagai bagian dari Masa Lalu.

Kebetulan McCain dari Partai Republik yang secara keseluruhan
dipersepsi partainya perusahaan-perusahaan gede. McCain juga mengklaim
bahwa dia adalah veteran perang Vietnam, bagian dari Masa Lalu.

Sedangkan Obama dan isterinya Michelle selalu mengatakan bahwa mereka
adalah bagian dari rakyat jelata Amerika yang selalu mempunyai
American Dream yang bersifat Masa Depan.Obama juga banyak memanfaatkan
e-mail dan SMS untuk melancarkan komunikasinya dan minta dukungan dari
orang per orang. Sedangkan McCain banyak menggunakan media tradisional
seperti TV untuk menyerang Obama.

Partai Republik akhirnya sadar pentingnya horisontalisasi ini. Jum’at
kemarin waktu AS, McCain pun memilih Sarah Palin, Gubernur Alaska,
sebagai calon Wakil Presidennya. Mirip seperti Obama, Sarah sangat
Horisontal, karena ia seorang wanita, masih muda, dan miskin
pengalaman. Ciri-ciri Horisontal yang selama ini ada dalam diri Obama
coba direbut oleh Partai Republik pada diri Sarah ini.

Obama memang belum tentu menang, karena bisa jadi sebagian besar
rakyat Amerika masih konservatif, jadi menyukai sesuatu yang sifatnya
vertikal. Namun bagaimanapun, Obama telah berhasil membuat sejarah.

Di negara jiran Malaysia, Anwar Ibrahim yang baru saja dilantik jadi
anggota Parlemen dan langsung jadi pemimpin oposisi, bisa dianggap
sebagai simbol Horisontalisasi Malaysia.

Bahkan sebenarnya, Horisontalisasi Politik di Malaysia sudah terjadi
sebelumnya. Jeff Ooi yang merupakan celebrity blogger di Malaysia dan
blog-nya dijuluki sebagai “Malaysia’s Most Influential Blog” bisa
dapat kursi parlemen.

Ketika Jeff Ooi tidak mendapatkan coverage di media konvensional yang
vertikal dan dikontrol ketat oleh pemerintah, dia membuat medianya
sendiri dan mendapat sambutan besar secara horisontal dalam dunia
blogosphere.

Contoh menarik lainnya untuk disimak adalah China, suatu negara yang
sangat vertikal di politik karena praktis cuma punya satu Partai Komunis.

Ketika profil Perdana Menteri Wen Jiabao muncul di Facebook pada 14
Mei 2008, dia mendapat kawan sekitar 14.000 orang dalam waktu cuma dua
minggu. Sedangkan profil Presiden Hu Jintao cuma punya sekitar 1000
kawan sampai saat ini.

Kenapa?

Karena Wen lebih horisontal! Dia lebih suka mengunjungi rakyat
ketimbang Hu. Waktu ada gempa bumi hebat awal Mei lalu, Wen
terus-menerus mengunjungi korban. Tak salah jika ia dijuluki “The
People’s Premier”.

Ini mirip Rudy Giuliani, Walikota New York pada waktu peristiwa
September 11 dulu. Ketika itu Giuliani dijuluki sebagai “America’s
Mayor” karena praktis ia adalah pejabat pemerintah Amerika Serikat
pertama yang mengunjungi lokasi kejadian. Giuliani juga kerap muncul
di TV untuk memimpin warganya pasca tragedi tersebut.

Contoh Horisontalisasi Politik lainnya di Asia adalah di Nepal. Raja
Nepal, Gyanendra, yang kurang mendapat dukungan dan tidak dekat dengan
rakyatnya, digusur rakyat dan negaranya jadi Republik sejak akhir Mei
2008 lalu.

Bandingkan dengan Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, yang sangat
dicintai rakyatnya karena sering bekerja untuk rakyat secara
Horisontal. Beliau sangat kuat kedudukannya dan dihormati oleh semua
kalangan.

Bagaimana di Indonesia sendiri?

Wah, sejak pak Harto jatuh di tahun 1998, Indonesia sudah jadi
Horisontal. Sayangnya, Amien Rais yang waktu itu menjadi simbol
pemimpin Horisontal kehilangan momen.

Sekarang dengan adanya Web 2.0, Indonesia jadi makin horisontal.

Lihat saja. Sekarang bukan hal yang tabu lagi jika kita mengkritik
atau bahkan mencaci-maki dengan keras para tokoh politik negeri ini
lewat media Internet, entah itu lewat milis atau blog. Orang sudah
tidak takut lagi, karena para tokoh politik yang dulu dianggap sebagai
“manusia setengah dewa”—meminjam istilah Iwan Fals—sekarang sudah
dianggap sejajar alias horisontal.

Pendapat satu orang di blog pribadinya bahkan bisa memberikan pengaruh
yang tidak kalah besarnya ketimbang suara resmi anggota parlemen. Web
2.0 memang memberikan akses lebih besar kepada setiap orang untuk
bersuara.

Ini menunjukkan bahwa pemilih Indonesia lebih percaya pada sosok
individual yang lebih Horisontal ketimbang partai politik yang
bersifat Vertikal.

Semuanya ini merupakan tanda-tanda jelas bahwa teknologi telah
mendorong Horisontalisasi Politik lebih cepat lagi.

It is The Technology

Monday, September 1st, 2008

Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas Online

Maaf pembaca, judul ini mungkin terlihat agak kasar untuk sebagian
dari Anda.

Tapi, kita memang sering tidak sadar bahwa horisontalisasi yang
menyebabkan demokratisasi di segala bidang sebenarnya memang
disebabkan oleh perkembangan teknologi.

Mas Ninok Leksono dari Kompas mengingatkan saya sekali lagi tentang
hal ini seusai acara “Kompas Political Gathering” di Bentara Budaya
Jakarta, Rabu malam kemarin. Acara ini merupakan acara khusus yang
diselenggarakan oleh Kompas untuk menjalin silaturahmi dengan para
pemimpin partai politik peserta Pemilu 2009.

Pak Jakob Oetama yang membuka acara tersebut menekankan bahwa dari
satu pemilu ke pemilu berikutnya, demokratisasi Indonesia bertambah
matang. Survey menunjukkan bahwa sebagian besar warga negara
menyatakan puas atas pelaksanaan demokrasi di negeri ini.

Setelah Pak Jacob, giliran Pak Daniel Dhakidae yang bicara. Pak Daniel
yang merupakan pakar politik dan juga mantan Kepala Litbang Kompas
mengatakan bahwa Pemilu 2009 ini merupakan momen terakhir untuk para
pemimpin “stok lama”.

Sementara saya sendiri, yang diminta bicara tentang Political
Marketing, dengan tegas berpendapat bahwa semua ini gara-gara
teknologi Web 2.0 yang bersifat horisontal.

Pendapat saya ini nyambung dengan pematangan demokrasinya Pak Jacob
yang esensinya memang ada di horisontalisasi. Hal ini juga nyambung
dengan “peringatan” Pak Daniel bahwa pemimpin lama yang masih bersifat
vertikal akan tidak punya tempat lagi.

Mau bukti bagaimana hebatnya teknologi ini?

Anda tentu tahu situs jejaring sosial Facebook, bukan? Walaupun
terhitung “anak bawang” dalam dunia Internet, situs ini sekarang
termasuk salah satu situs paling populer di Internet. Per tanggal 26
Agustus kemarin, tercatat sudah ada 100 juta anggota situs ini!

Ini berarti bahwa jumlah “penduduk” Facebook jika dibandingkan dengan
populasi penduduk negara-negara “beneran” di dunia, ia akan berada di
peringkat ke-12; persis di bawah Meksiko, dan di atas Filipina.
“Penduduk” Facebook juga puluhan kali lipat dari populasi Singapura
yang hanya berjumlah 4,5 juta orang.

Luar biasa, bukan?!

Di berbagai penjuru dunia, orang memang keranjingan Facebook. Bukan
hanya anggota baru yang terus bergabung, anggota lama di Facebook pun
terus aktif mencari kawan.

Saya sendiri contohnya. Dalam waktu dua bulan saja, saya sekarang
sudah punya kawan sebanyak hampir 2000 orang. Tiap hari saya menerima
permintaan dari sepuluh sampai dua puluh orang yang hampir semuanya
malah tidak saya kenal.

Lantas, mengapa Facebook bisa jadi sangat populer?

Ini terjadi karena Facebook sangat user-friendly. Orang yang
sebelumnya awam Internet pun akan bisa dengan mudah bergabung menjadi
anggota. Setelah itu, ia juga akan bisa dengan mudah mencari kawan
atau bergabung dengan suatu komunitas di Facebook tersebut.

Di Facebook, tiap anggota memang bisa dengan mudah membentuk
komunitasnya sendiri tanpa melihat status yang bersangkutan. Tidak
peduli orang itu pekerjaannya apa, berasal dari negara mana atau
agamanya apa misalnya. Semua orang diperlakukan sama rata, yang
penting ia memiliki minat yang sama dalam komunitas tersebut.

Inilah bentuk nyata dari kehebatan Web 2.0.

Saat era Web 1.0, Internet masih bersifat satu arah, statis, dan
eksklusif. Situs-situs yang ada di era ini masih bersifat informasi
semata dan tidak interaktif. Selain itu, pengembangan situs seakan
menjadi milik para jago programming komputer semata, sehingga sebagian
besar orang hanya berperan sebagai pengguna pasif.

Namun, teknologi Web 2.0 mengubah segalanya. Internet menjadi bersifat
interaktif dan dinamis. Orang jadi bisa lebih mudah mengekspresikan
dirinya, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi,
berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dan banyak lagi. Teknologi yang
ada memungkinkan setiap orang jadi punya kesempatan yang sama, bukan
hanya milik sekelompok orang tertentu.

Sekali lagi, saya ambil contoh diri saya sendiri. Saya ini sebenarnya
termasuk orang yang agak gaptek. Jangankan Internet, menggunakan
komputer saja pun saya sangat jarang jika tidak mau dibilang hampir
tidak pernah.

Namun, belakangan, seperti juga sudah saya ceritakan di atas, saya
malah keranjingan Facebook. Awalnya saya memang bergabung karena
didaftarkan oleh staf saya di MarkPlus, Inc. Namun, lama-kelamaan saya
kok merasa asyik sendiri, apalagi setelah saya mulai terbiasa
menggunakan BlackBerry yang saya bawa kemana-mana.

Ini menunjukkan bahwa Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin
cepat. Internet bukan hanya milik generasi muda, orang-orang yang
sudah cukup berumur seperti saya pun sekarang jadi aktif di Internet.

Jadi, disadari atau tidak, teknologi telah dan akan terus menjadi
penggerak perubahan revolusioner pada seluruh aspek kehidupan.

Karena itu, kalau Anda mau survive dan jadi Marketer yang sukses di
era New Wave Marketing, jangan pernah sekali-kali mengabaikan teknologi!

The World is still Round, the Market is already Flat

Monday, September 1st, 2008

ZAMAN dulu orang sempat bingung, bumi ini sebenarnya bulat atau datar.

Para ilmuwan seperti Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei pun melakukan penelitian mengamati pergerakan bintang-bintang di langit. Mereka akhirnya berpendapat bahwa bumi ini berputar mengelilingi matahari; bertentangan dengan keyakinan saat itu bahwa bintang-bintanglah, termasuk matahari, yang mengelilingi bumi sebagai pusat alam semesta. Karena bumi yang berputar mengelilingi matahari, maka pastilah bumi itu berbentuk bulat.

Selain kalangan ilmuwan, para pelaut malah sudah lama yakin bahwa bumi ini bulat. Karena itu, mereka tidak takut lagi berlayar jauh. Mereka tidak takut akan jatuh ke jurang yang dalam ketika telah mencapai “ujung dunia”.

Christopher Columbus salah satunya. Pelaut Italia ini berani mengarungi Samudra Atlantik dan akhirnya pada tahun 1492 menemukan apa yang disebut sebagai Dunia Baru (New World). Columbus menganggap bahwa Dunia Baru yang ditemukannya itu merupakan dataran paling timur dari Benua Asia. Karena itulah ia menyebut penduduk aslinya sebagai Indian karena dikiranya mereka berasal dari India.

Setelah Columbus, sejumlah pelaut lainnya juga menjelajahi Dunia Baru ini. Salah satunya adalah Amerigo Vespucci. Vespucci-lah orang pertama yang menyatakan bahwa Dunia Baru tersebut bukanlah bagian dari Benua Asia, tapi merupakan benua baru. Berkat jasa Amerigo Vespucci inilah, benua baru ini kemudian diberi nama Amerika.

Buat saya, Christopher Columbus is a great sailor, but Amerigo Vespucci is a great marketer!

Bagaimana tidak. Walaupun Amerigo Vespucci bukan si penemu, tapi justru namanyalah yang diabadikan. Ini mengingatkan saya pada pernyataan Al Ries dan Jack Trout, penulis buku legendaris Positioning: The Battle for Your Mind. Mereka berdua mengatakan bahwa yang penting bukan siapa yang pertama kali menemukan, tapi siapa yang berani pertama kali mengklaimnya.

Hal ini juga terjadi pada zaman modern ini. Tahu-tahu ada orang yang namanya Thomas L Friedman kembali mengklaim bahwa dunia ini datar, The World is Flat.

Friedman, yang kolumnis tetap surat kabar The New York Times dan gemar berkeliling dunia, ngomong panjang lebar bahwa dunia yang datar ini berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang membuat semua orang punya kesempatan sama, asal punya akses ke internet tentunya.

Semua itu ditulisnya dalam buku The World is Flat. Buku ini memang fenomenal karena akhirnya dikutip orang di mana-mana. Hebat, bukan?

Namun sebenarnya, sebelum Friedman, ada orang Jepang yang namanya Kenichi Ohmae menulis buku The Invinsible Continent.

Di situ, Ohmae yang sering disebut Mr Strategist—merujuk pada buku legendarisnya The Mind of the Strategist—berpendapat bahwa internet itu walaupun sesuatu yang maya, tapi seperti kisah penemuan Benua Amerika dulu.

Jika dulu Columbus menemukan emas di Amerika, sekarang banyak orang jadi kaya dan bahkan sangat kaya karena bisa menemukan ”emas baru” di internet.

Buat saya, Kenichi Ohmae is a Great Strategist, but Thomas Friedman is a Great Marketer!

Walaupun Ohmae sudah lebih dulu punya pemikiran serupa, tapi Friedmanlah yang memopulerkannya.

Yang menarik, dunia TIK saat ini sedang heboh dengan apa yang disebut sebagai Web 2.0. Inilah generasi berikutnya dari internet yang dulunya cuma bisa memberikan informasi. Saat ini internet sudah bersifat interaktif. Era Web 2.0 ini membuat internet tidak lagi bersifat vertikal semata, tapi sudah bersifat horisontal.

Bukan cuma bersifat One-to-Many atau One-to-One, tapi sudah bersifat Many-to-Many. Karena itulah, pasar menjadi datar. Artinya, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer. Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya.

Dengan demikian, hanya marketing yang bersifat horisontal yang akan efektif.

Meminjam kata yang populer dipakai di bidang TIK, I Nyoman G Wiryanata, Direktur Konsumer PT Telkom Indonesia, bilang ke saya bahwa Era Legacy telah bergeser menjadi Era New Wave.

Karena itulah saya lantas terinspirasi untuk mengembangkan New Wave Marketing sebagai jawaban dari tantangan baru yang bersifat horisontal itu.

Selama seratus hari berturut-turut, mulai hari ini sampai dengan 11 Desember 2008 saat penyelenggaraan The MarkPlus Conference 2009 di Pacific Place, Jakarta, saya akan menulis esai yang merupakan kumpulan pemikiran komprehensif tentang hal tersebut.
Dengan mengikuti seratus tulisan tersebut, yang selain di KOMPAS.com ini, juga bisa Anda baca versi ringkasnya di koran Kompas (cetak), saya ingin mengajak Anda menjadi Marketer seperti Amerigo Vespucci yang berada di zamannya Thomas Friedman. Saya ingin mengajak Anda untuk menjadi Marketer yang mampu menemukan ”emas-emas baru”.

Selamat datang di Era New Wave Marketing!

Percayalah pada saya. Dunia masih tetap bulat kok. Hanya pasarnya yang jadi datar!

Ditulis oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di
Kompas Online