Archive for the ‘marketing’ Category

Why Men Lie and Women Cry?

Posted on October 4th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas

MENGAPA pria berbohong dan wanita menangis? Itulah yang ditanyakan
Allan Pease dan Barbara Pease, dan sekaligus menjadi judul salah satu
buku laris mereka. Selain buku itu, keduanya juga menulis buku-buku
laris lainnya yang judulnya “serupa tapi tak sama”, seperti: Why Men
Don’t Have a Clue and Women Always Need More Shoes, Why Men Can Only
Do One Thing at a Time and Women Never Stop Talking, dan Why Men Don’t
Listen and Women Can’t Read Maps.

Nah, dari judulnya saja sudah ketahuan kalau kedua penulis jelas-jelas
ingin memperlihatkan adanya perbedaan mendasar antara pria dan wanita.
Sebagai marketers, kita memang harus bisa memperhatikan dengan cermat
karakter pria dan wanita ini. Merekalah pelanggan kita. Kalau sampai
salah membacanya, akan sulit bagi kita untuk menjual produk kita
kepada mereka.

Kembali ke judul di atas. Memang ada pernyataan yang bernada guyon,
wanita itu sering menangis ketika mengetahui pasangan prianya bohong.
Tapi sebaliknya, pria terpaksa bohong karena takut pasangan wanitanya
malah menangis dan jadi emosional tidak karuan kalau diceritakan
kenyataan yang sesungguhnya. Ruwet, kan?

Wanita memang dianggap lebih emosional ketimbang pria. Namun jangan
salah, di era New Wave Marketing ini, pria pun jadi lebih emosional.
Seperti sudah saya uraikan dalam buku Marketing in Venus, pria memang
diuntungkan dengan kemajuan teknologi saat ini. Pria dulu dikenal
sulit untuk mengekspresikan perasaannya; bukan karena mereka tidak
memiliki emosi, tetapi karena pria kadang tidak tahu bagaimana cara
mengungkapkannya.

Bagi kaum pria, merangkai kata-kata dan mengungkapkan perasaan
bukanlah pekerjaan gampang. Dibutuhkan ketrampilan khusus untuk
melakukan hal itu. Mereka lebih mudah mengungkapkan emosi dengan
simbol-simbol, tidak secara terang-terangan.

Nah, dengan adanya teknologi seperti SMS yang memungkinkan
pengungkapan isi hati tanpa perlu bertatap muka, kaum pria jadi lebih
mudah mengungkapkan emosi dan perasaannya. Selain itu, secara
biologis, pria memang lebih fokus. Pria sulit untuk memecah-mecah
pikiran dan ngobrol dengan beberapa orang sekaligus karena mereka
perlu berkonsentrasi penuh.

Namun, berkat adanya teknologi chatting, saat ini pria sudah bisa
ngobrol dengan beberapa orang sekaligus dengan hanya terfokus kepada
satu layar saja. Pria jadi lebih mampu berbagi cerita dengan orang
lain. Dan tak hanya itu, teknologi chatting ini juga memungkinkan pria
memperhatikan detail pembicaraan. Mereka juga dapat melihat ulang
tulisan yang ada sebelumnya.

Singkatnya, kaum pria jadi semakin seperti wanita. Mengapa demikian?
Karena pria lebih mengandalkan mata. Dengan percakapan di dunia maya
yang dikomunikasikan lewat mata, mereka menjadi terakomodasi dalam
menangkap banyak informasi. Sejumlah penghalang untuk berkomunikasi
dan mengungkapkan emosi pada pria kini telah diakomodasi oleh
teknologi sehingga pria tidak lagi menghadapi kesulitan untuk
mengekspresikan emosinya.

Kecanggihan teknologi juga mempermudah pria untuk melakukan berbagai
pekerjaan sekaligus, tanpa kehilangan fokusnya. Semua itu juga
menjadikan insting pria pun lebih terasah. Pria seperti inilah yang
dikenal sebagai “metroseksual.”

Pria metroseksual ini bukan berarti mereka gay atau kecewek-cewekan.
Mereka masih tetap pria heteroseksual dan tetap macho. Hanya saja
sosok macho bagi pria metroseksual mengalami redefinisi, bukan lagi
seperti Charles Bronson, Arnold Schwarzenegger, atau Sylvester
Stallone, tapi sosok-sosok seperti David Beckham, Johnny Depp, atau
Brad Pitt.

Pria metroseksual ini juga punya kemampuan berkomunikasi dan
interpersonal skills yang sangat baik. Mereka juga introspektif dan
punya intuisi yang lebih tajam ketimbang pria kebanyakan.

Sekarang ini sudah banyak pria yang tidak malu-malu lagi disebut
metroseksual. Saya sendiri contohnya. Saya nggak malu disebut
metroseksual, karena itu berarti menunjukkan kalau saya bisa lebih
sensitif terhadap situasi.

Saya selalu menangis ketika menonton pertunjukan teater The Phantom of
the Opera. Terutama pada adegan-adegan terakhir ketika tokoh Erik, si
“hantu”, akan meninggal dunia. Padahal, saya sudah nonton pertunjukan
ini tiga kali, yaitu ketika di New York, London, dan Singapura.

Jadi, bisa Anda lihat bahwa pria dan wanita saat ini sudah sangat jauh
berbeda dibanding sekian tahun lalu. Konklusinya, sebagai marketers
Anda memang harus benar-benar mengerti pelanggan Anda
sedalam-dalamnya. Meminjam judul lagu Bee Gees, how deep is your love
to your customers?

The Insight Challenge: How Deep Can You Go?

Posted on October 4th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas

INI jelas bukan tentang “How Low Can You Go”-nya A-Mild dulu ketika
menantang merek lain soal kadar tar dan nikotin dalam rokok. Tapi, di
zaman New Wave Marketing ini, tantangannya adalah, sedalam apa kita
bisa mengerti pelanggan. Memang, dari dulu, upaya memahami pelanggan
ini sangat sulit. Sekarang ini lebih susah lagi karena tiga hal berikut.

Pertama, customers want to look good. Mereka tidak ingin kelihatan
jelek atau kekurangannya diketahui orang lain. Coba saja Anda tanyakan
ke anak-anak muda, pernahkah mereka memakai viagra. Sebagian besar
pasti mengaku belum pernah, walaupun kenyataannya belum tentu begitu.

Coba juga Anda tanya ke setiap laki-laki yang baru saja keluar dari
toilet umum, apakah mereka sudah mencuci tangannya. Saya yakin hampir
semua pasti bilang sudah, walaupun sebenarnya belum. Ini terjadi
karena orang sudah dari sono-nya cenderung enggan mengungkapkan
hal-hal yang bisa membuat malu mereka atau yang menunjukkan kekurangan
mereka.

Masalah kedua, banyak bias yang bisa muncul kalau orang sengaja
ditanya tentang suatu hal. Ini terjadi antara lain karena pengaruh
lingkungan atau mereka kesulitan mengungkapkan maksud yang sebenarnya.
Misalnya saja ketika orang ditanya, warna mobil apa yang disukai oleh
mereka. Kebanyakan saya yakin akan menjawab hitam. Ini belum tentu
warna yang sesungguhnya mereka sukai, namun bisa saja terjadi bias
karena mayoritas mobil yang mereka lihat sehari-harinya berwarna
hitam. Atau ketika orang ditanya tentang rasa suatu makanan.
Jawabannya bisa terlalu generik, enak atau tidak enak. Namun ketika
diminta mengungkapkan lebih lanjut apa yang dimaksud enak atau tidak
enak itu, mereka kesulitan menguraikannya.

Masalah ketiga yang membuat pelanggan semakin susah dimengerti adalah
mereka begitu gampang bohong. Hal ini terutama didorong oleh kemajuan
teknologi. Orang tidak perlu lagi bertemu atau berbicara secara
langsung (face-to-face). Cukup lewat telepon, e-mail, atau online
survey. Lihat saja, banyak laki-laki yang sehari-harinya terlihat
pendiam namun bisa jadi perayu ulung lewat SMS atau saat chatting online.

Begitu juga dengan survei-survei yang dilakukan lewat telepon atau
Internet. Kita akan lebih mengalami kesulitan mengetahui apakah
responden berkata atau mengisi kuesionernya secara jujur jika tidak
diverifikasi lebih lanjut. Beda misalnya jika bertemu secara langsung.
Dari raut muka, nada bicara, dan bahasa tubuhnya, kita akan lebih bisa
mendeteksi apakah seseorang berkata jujur atau tidak.

Nah, ketiga hal inilah yang membuat upaya kita memahami pelanggan
semakin sulit, dan pada akhirnya membuat program marketing kita gagal.
Lantas, bagaimana cara untuk bisa lebih memahami pelanggan ini?

Ada satu ungkapan menarik dari CEO Worldwide Saatchi & Saatchi, Kevin
Roberts, “If you want to understand how a lion hunts, don’t go to the
zoo. Go to the jungle.” Inilah kuncinya. Sebagai marketers, kita harus
bisa mengamati pelanggan, bagaimana mereka hidup dan bekerja pada
kondisi alaminya (natural setting). Dari sinilah kita bisa mendapatkan
the real insight dari pelanggan kita.

Studi yang digunakan untuk mendapatkan insight pelanggan seperti ini
dikenal dengan nama Ethnography Marketing (EM). EM sebenarnya berakar
dari disiplin ilmu antropologi. Di sini marketers menggunakan
dasar-dasar ilmu antropologi untuk memahami bagaimana orang membeli,
menggunakan, atau merelasikan dirinya dengan sebuah produk.

Dibandingkan metode riset biasa seperti wawancara atau focus group
discussion (FGD), customer insight seperti lewat EM ini cakupannya
lebih sempit, namun juga lebih dalam dan lebih bersifat terbuka
(open-ended). Banyak hal yang bisa dieksplorasi lebih lanjut.

Lokasi risetnya juga bukan di satu tempat tertentu seperti di
laboratorium atau ruang FGD misalnya. Namun dilakukan di tempat yang
sebenarnya, tempat sehari-harinya orang tersebut beraktivitas. Bisa di
rumah, kantor, toko, ruang publik, restoran, event-event seperti saat
konser musik atau lomba balap mobil, atau di tempat-tempat lain. Lewat
cara seperti ini kita akan lebih bisa memahami soal kepuasan,
ketidakpuasan, atau keterbatasan pelanggan dibanding pendekatan riset
lainnya.

Di MarkPlus sendiri, kami telah melakukan EM ini, yang kami namakan
VenuSight®. Sejumlah proyek yang telah kami garap memang membuktikan
bahwa pendekatan EM mampu memberikan banyak temuan yang mungkin tidak
bisa didapat lewat pendekatan riset biasa.

Memang, di era New Wave Marketing ini marketers harus semakin bisa
“menyelam” (immerse) dengan pelanggan. Dengan demikian marketers akan
lebih mampu menemukan latent needs dari pelanggan dan pada akhirnya
dapat membuat produk yang benar-benar bisa diterima oleh pelanggan.

SMSServer

Posted on September 14th, 2008 in Birumerah Technology, marketing | No Comments »

Salah satu produk yang dimiliki Birumerah Technology adalah SMSServer, baru – baru ini salah satu client komplain dan menyatakan bahwa program yang ada saat ini ternyata bermasalah untuk mengirimkan sms kebeberapa model handphone, salah satu handphone yang bermasalah untuk menerima sms dari program sms server adalah sony ericsson T250.

Untuk mengatasi masalah tersebut terpaksa kita bongkar ulang code SMSServer yang sudah berjalan dan dugaan awal adalah masalah ada pada sms encoding, yang bermasalah dengan handphone soner T250.

Untuk solving masalah dengan cepat terpaksa mencari produk sms server siap pakai yang bisa dimodifikasi fungsinya, dan setelah membaca beberapa referensi akhirnya saya memilih untuk menggunakan Gammu Sms Server versi Windows :) , meskipun awalnya cukup bermasalah karena modem yang kami pergunakan adalah huawei E220, tapi setelah mencoba dengan modem itegno 3000, iteno 3800 versi usb, dan handphone sony ericcson w810i, dan gammu for windows versi 1.09, akhirnya bisa juga kami membuat program sms server dengan kamampuan yang mendekati sms server yang sudah dibaut sebelumnya :) .

Gammu bisa didownload dari link berikut download gammu, dan untuk pemesanan custom sms server yang support database mysql, oracle, pgsql, mssql ataupun untuk keperluan lainnya bisa kontak kami di info@birumerah.com

The Seven Steps to Nirvana

Posted on September 12th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca di Kompas

“A business does more than transact. It communicates. It collaborates.
It innovates.”

Itulah yang dikatakan Mohan Sawhney dan Jeff Zabin dalam bukunya, The
Seven Steps to Nirvana.

Buku ini judulnya memang bisa membingungkan. Mungkin ada yang mengira
buku ini tentang spiritualisme.

Padahal sebenarnya, buku ini membahas tentang manfaat e-business
(baca: teknologi) dalam sebuah perusahaan. Kata “nirvana” bermakna
bahwa kalau sebuah perusahaan bisa menjalankan tujuh langkah yang ada
dalam buku ini, niscaya perusahaan tersebut akan mampu mencapai puncak
tertinggi dan jadi pemenang.

Kedua penulis mengatakan hal tersebut pasca meletusnya gelembung
dotcom pada sekitar tahun 2000. Sawhney dan Zabin bilang, teknologi
semahal dan secanggih apapun yang dipraktikkan dalam e-business tidak
akan berarti apa-apa jika kita tidak menjalankan langkah-langkah yang
tepat.

Prinsipnya, e-business haruslah tetap customer-centric, bukan
technology-centric.

Inilah yang rupanya kurang diperhatikan oleh para dotcom entrepreneurs
saat itu. Mereka kalah bersaing dan akhirnya terjadilah peristiwa
dotcom bust. Padahal, teknologi yang digunakan mereka sudah sangat
canggih. Modal juga melimpah ruah dengan hadirnya venture capital di
mana-mana.

Namun, tetap saja banyak perusahaan dotcom yang kalah bersaing dan
akhirnya mati.

Sawhney dan Zabin bilang, penerapan teknologi haruslah selalu
menghasilkan satu atau lebih dari empat kemungkinan berikut:
pengurangan biaya (cost reduction), peningkatan pendapatan (revenue
expansion), pengurangan waktu (time reduction), dan/atau peningkatan
relasi (relationship enhancement).

Nah, jadi gampangnya, kalau teknologi yang Anda gunakan tidak mampu
menghasilkan salah satu dari keempat hal di atas, berarti Anda
menerapkan teknologi yang keliru.

Untuk mencapai hal-hal tersebut, ada tujuh langkah yang harus
dilakukan. Pertama adalah menentukan visi terlebih dahulu. Kemudian
proses evolusi agar perusahaan siap menerapkan teknologi. Lalu
perumusan strategi. Disusul berturut-turut sinkronisasi, penyusunan
infrastruktur, kapitalisasi, dan penyiapan organisasi.

Visi memang harus diletakkan pertama kali. Proyek Iridium dari
Motorola pada akhir 1990-an misalnya, gagal karena visi yang salah.

Proyek tersebut bertujuan menyediakan telepon seluler dengan kemampuan
jelajah (roaming) global pada mainstream market. Intinya, tidak ada
lokasi di dunia ini yang bisa luput dari jangkauan Proyek Iridium ini.
Namun pasar ternyata tidak meresponnya.

Coba, bayangkan, berapa banyak sih, pelanggan telepon seluler yang
punya kebutuhan komunikasi global. Apalagi harga hand-set-nya jauh
lebih mahal ketimbang harga hand-set telepon seluler biasa saat itu.

Visi bisnisnya memang kurang tepat. Daripada menyasar mainstream
market, seharusnya Proyek Iridium ini menyasar pasar-pasar ceruk
(niche) seperti para geologist atau personel militer yang berada di
lokasi-lokasi terpencil.

Karena visi yang keliru inilah, Proyek Iridium akhirnya dinyatakan
bangkrut pada tahun 1999. Padahal investasi yang dikeluarkan sudah
mencapai 5 milyar dollar AS!

Langkah lainnya adalah strategi. Berpikir secara strategis tentang
e-business adalah berpikir lebih sebagai seorang arsitek, bukan
insinyur. Arsitektur harus didahulukan ketimbang engineering.

Maksudnya, kita harus berpikir tentang skema besar di mana bisnis
tersebut disusun, bukan fokus kepada komponen individual atau proses
bisnisnya. Arsitek berpikir secara sintesis, sementara insinyur
berpikir secara analitis.

Pada Januari 1999, Jack Welch, CEO GE, meluncurkan program “Destroy
Your Business” di GE. Setiap unit menganalisis pesaing masing-masing
yang berkaitan dengan e-business. Kemudian, masing-masing unit itu
bertindak seolah-olah sebagai pesaing tersebut dan membuat rencana
bisnis untuk “menghancurkan” GE.

Setelah itu, pada tahap selanjutnya, barulah unit-unit GE itu menyusun
program, bagaimana arsitektur bisnis yang ada sekarang akan diubah
untuk menanggapi ancaman ini.

Hasilnya? Semua unit bisnis GE tadi akhirnya mampu menemukan cara baru
dan kreatif untuk meraih pelanggan baru dan melayani pelanggan lama
dengan lebih baik.

Inilah yang dimaksud berpikir sebagai seorang arsitek. Welch mencoba
melihat dan mendesain “bangunan” bisnis yang ada secara keseluruhan
terlebih dahulu dengan menempatkan pesaing sebagai bagian dari bisnis.
Barulah kemudian ia mengkonstruksi bisnisnya kembali untuk bisa
bekerja lebih baik.

Memang, dalam era New Wave Marketing yang semakin transparan dan
semakin mudah mendapatkan informasi ini, pesaing justru bisa menjadi
“mitra” yang sangat berharga untuk pengembangan bisnis kita. Kalau
kita tahu kemampuan pesaing, dengan sendirinya kita juga bisa
meningkatkan kemampuan kita agar tidak didahului oleh pesaing.

From Thai Boxing to American Wrestling

Posted on September 12th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca online di Kompas

DARI tinju ala Thailand sampai ke gulat gaya Amerika.

Adalah Pak I Nyoman G. Wiryanata, Direktur Konsumer PT Telkom
Indonesia, yang mengatakan istilah itu kepada saya.

Beliau ingin menggambarkan betapa kacaunya persaingan di dunia
marketing saat ini, khususnya di industri telekomunikasi di Indonesia.

Bagaimana tidak. Barangkali susah dicari suatu negara yang jumlah
operatornya sebanyak Indonesia. Kalau saya tidak salah catat, saat ini
ada 10 operator seluler di Indonesia, baik yang berbasis GSM maupun
CDMA. Mereka adalah: Telkomsel, Indosat, XL, Telkom (Flexi), Bakrie
Telecom (Esia), Mobile 8 (Fren), Smart, Sampoerna Telekomunikasi
(Ceria), Hutchison CP (3/Three), dan Natrindo Telepon Seluler (Axis).

Para operator tersebut melihat bahwa Earnings Before Interest, Taxes,
Depreciation and Amortization (EBITDA) di industri telekomunikasi di
Indonesia ini memang masih sangat tinggi. EBITDA ini merupakan metrik
yang biasa digunakan untuk menghitung kinerja keuangan dan
mengevaluasi tingkat profitabilitas sebuah perusahaan beraset besar
seperti dalam industri telekomunikasi. Semakin tinggi nilai
EBITDA-nya, berarti perusahaan atau industri tersebut semakin bagus
kinerja keuangannya.

Berdasarkan laporan terkini dari lembaga Research and Markets yang
berjudul “2Q08 Indonesia Mobile Forecast, 2008 – 2010: Indonesia will
continue to be the most profitable mobile market in East Asia”, EBITDA
industri telekomunikasi seluler di Indonesia diperkirakan akan
mencapai angka 64% pada tahun 2010.

Selain itu, tingkat penetrasi telekomunikasi seluler di Indonesia
diperkirakan juga akan terus meningkat. Dari sekitar 50,7% pada tahun
2008 ini menjadi 62,7% pada tahun 2010. Jumlah pelanggan juga akan
meningkat dari 115,6 juta pada tahun 2008 ke 146,5 juta pelanggan pada
tahun 2010.

Coba, sekarang siapa yang tidak tergiur melihat angka-angka tersebut?

Karena itu, semua pemain mati-matian untuk meraih pangsa pasar (market
share) dari segi jumlah pelanggan yang sebesar-besarnya. Strategi
pemasaran yang kemudian digunakan adalah dengan melakukan perang harga
yang tak terkendali. Semua operator seluler berlomba-lomba
mengiklankan dirinya sebagai yang paling murah lewat media cetak,
elektronik, maupun media luar ruang.

Perang harga ini memang bukan semata karena secara internal para
operator seluler tersebut bisa melakukan pengurangan biaya. Tarif
komunikasi seluler, baik percakapan maupun layanan SMS, memang sudah
diturunkan oleh pemerintah sejak 1 April 2008 lalu. Jadi, karena
secara industri tarifnya turun, para operator seluler juga mengikutinya.

Namun celakanya, iklan-iklan perang tarif yang dibuat sudah
kebablasan. Ada yang menyerang operator lain walaupun secara tersamar.
Informasi yang ada dalam iklan tersebut juga kadang menyesatkan,
sehingga banyak menimbulkan protes dari pelanggan.

Karena itulah, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) turun
tangan mengingatkan para operator tadi. Iklan yang ada tidak boleh
melampaui batas etika dan tidak boleh memberikan informasi yang kurang
lengkap sehingga terjadi misinterpretasi di kalangan konsumen. Selain
itu, walaupun terjadi perang tarif, namun kualitas layanan harus
diutamakan dan tidak boleh terganggu.

Persaingan di industri telekomunikasi seluler di Indonesia ini memang
sudah agak kacau.

Mengambil ilustrasi dari olahraga tinju dan gulat, kita bisa melihat
tiga tingkat persaingan.

Yang pertama adalah Traditional Boxing. Semua orang—petinju, wasit,
hakim, pelatih, penonton—ikut aturan. Petinju hanya dapat nilai kalau
tinjunya kena muka lawan.

Kalau yang ditinju kepala bagian belakang atau perut bagian bawah,
nggak dihitung, bahkan bisa diperingatkan wasit dan dikurangi
nilainya. Selain itu, juga tidak boleh menggunakan kaki untuk
menendang lawan.

Nah, persaingan tingkat kedua adalah Thai Boxing. Ini lain lagi
ceritanya. Sekarang boleh menggunakan kaki untuk menendang lawan
secara legal. Tapi, di sini pertarungannya masih berlangsung relatif
terkendali karena masih ada aturan yang dipatuhi.

Tapi, kalau persaingannya sudah mencapai tingkat American Wrestling,
wow, kacau sekali.

Tidak jelas, siapa kawan siapa lawan. Yang tadinya kawan bisa jadi
lawan. Semua benda mulai dari meja, kursi, palu, sampai tangga besi
bisa digunakan untuk menghantam lawan.

Lawan juga bisa diuber sampai di luar arena pertandingan. Wasitnya
bisa ikut-ikutan dipukul.

Benar-benar kacau, karena nyaris tidak ada aturan yang berlaku.

Nah, tentu tidak ada yang menginginkan persaingan seperti American
Wrestling ini, bukan?

Bukan hanya pemain yang akan repot karena bisa menggerus profit.
Pelanggan juga dirugikan karena kualitas layanan bisa terganggu.
Secara industri juga bisa berdampak negatif karena bisa menimbulkan
oligopoli.

Good Cop, Bad Cop and Ugly Cop

Posted on September 12th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca online di Kompas

KALAU Anda nonton film-film Hollywood yang bertemakan action, hampir
bisa dipastikan Anda akan selalu mendapatkan karakter good cop dan bad
cop.

Orang-orang Hollywood memang paling suka mengkontraskan polisi yang
baik dengan polisi yang jelek.

Polisi baik digambarkan selalu mematuhi aturan yang ada, jujur,
dedikatif, dan bersikap profesional. Play by the book istilahnya.

Sementara, polisi jelek digambarkan suka menangkap orang tanpa alasan
yang jelas atau suka menyiksa tahanan yang sedang diperiksa. Polisi
jelek juga sering merasa sok berkuasa mentang-mentang dia punya power.

Tapi, teman-teman saya yang pernah ikut pelatihan di FBI Academy di
Amerika bilang bahwa di sana ada istilah ugly cop juga.

Wah, ini bukan sekadar polisi yang cuma kasar dan sok kuasa. Polisi
seperti ini malah jadi backing mafia judi dan obat terlarang. Polisi
buruk seperti ini justru lebih berbahaya daripada polisi jelek. Kalau
polisi jelek biasanya bisa langsung kelihatan dari luar. Sementara,
karena saking lihainya, banyak di antara ugly cop ini yang tidak
ketahuan belangnya. Dari luar nampak baik, namun ternyata di belakang
ulahnya sangat buruk.

Nah, di New Wave Landscape yang berorientasi serba Digital, Global,
dan Future ini juga begitu.

Jangan kaget kalau para kompetitor Anda ada tiga tipe juga: Good
Competitors, Bad Competitors, dan Ugly Competitors.

Kalau pesaing Anda adalah good competitors, akan terjadi persaingan
yang sehat, fair competition. Pasar akan membesar secara alamiah.
Namun, jika pesaing Anda adalah bad competitors atau malah ugly
competitors, situasinya bisa malah runyam. Bukan hanya Anda yang akan
terkena dampaknya, namun secara keseluruhan pasar bisa rusak.

Persaingan yang sehat terjadi ketika lapangan permainannya sama datar.
Artinya, semua pemain berada pada posisi yang sejajar, tidak ada yang
lebih tinggi atau lebih rendah. Kita bisa menang karena kita memang
lebih unggul daripada yang lain, bukan karena kita menjelek-jelekkan
lawan atau bermain kasar.

Teknologi Internet memungkinkan terjadinya fair competition ini. Situs
eBay misalnya. Bila kita menjual suatu produk, kita juga bisa melihat
produk serupa yang ditawarkan oleh orang lain alias pesaing kita di
situs tersebut. Kita bisa tahu harga, kualitas produk, atau lamanya
waktu pengiriman dari pesaing kita tersebut. Semuanya serba transparan.

Sementara, bad competition dan ugly competition juga bisa terjadi di
Internet.

Salah satu kasus bad competition misalnya ketika Microsoft dianggap
melakukan monopoli dengan menyertakan web browser Internet Explorer ke
dalam sistem operasi Microsoft Windows-nya pada sekitar tahun 1998.
Hal ini dianggap akan mematikan produk web browser lainnya seperti
Netscape Navigator ataupun Opera. Walaupun akhirnya kasus ini bisa
terselesaikan dengan baik, nama Microsoft sempat mendapatkan sorotan
negatif.

Kasus lainnya terjadi sekitar pertengahan 2006 antara Yahoo! China dan
Qihoo, portal Internet asal China. Qihoo, yang dipimpin oleh Zhou
Hongyi, mantan eksekutif Yahoo!, meluncurkan spyware software yang
mengidentifikasi salah satu fitur Yahoo! sebagai software yang
berbahaya (malware). Yahoo! pun menuntut Qihoo karena dianggap
melakukan kompetisi yang tidak sehat. Sebagai balasan, Hongyi gantian
menuntut Yahoo! karena dianggap mencemarkan nama baiknya.

Sementara, kasus ugly competition juga tidak banyaknya.

Saat Olimpiade Beijing lalu misalnya, ada dua situs yang seolah-olah
merupakan situs resmi untuk penjualan tiket secara online. Situs
www.beijingticketing.com dan www.beijing-2008tickets.com tersebut
ternyata bukanlah situs resmi, dan akhirnya dimatikan (shut-down),
namun sempat menipu banyak orang dan meraup jutaan dollar AS.

Di Indonesia sendiri kasus yang mirip pernah terjadi. Beberapa tahun
lalu pernah ada situs-situs gadungan dari Klik BCA. Situs gadungan ini
nama domainnya memang sengaja dibuat mirip dengan nama domain situs
aslinya sehingga orang yang salah ketik sedikit saja akan masuk ke
situs gadungan tersebut. Untungnya hal ini segera disadari oleh pihak
BCA dan situs-situs gadungan tersebut sekarang telah dimatikan.

Memang, dunia maya membuka peluang ke semua orang tanpa kecuali.
Mereka yang berniat buruk pun bisa memanfaatkan teknologi Internet ini
untuk mengganggu perusahaan Anda dengan berbagai cara.

Namun, walaupun ada bad competitors dan ugly competitors, Anda tetap
jangan ikut-ikutan main kotor.

Percayalah, di era New Wave Marketing ini, dengan semakin transparan
dan horisontalnya lapangan permainan serta semakin pintarnya
pelanggan, hanya mereka yang bersaing dengan fair-lah yang akan survive.

Country First vs People’s President

Posted on September 12th, 2008 in marketing | No Comments »

MENGIKUTI Republican National Convention (RNC) di Minneapolis-Saint
Paul memang terasa bedanya dengan Democratic National Convention (DNC)
di Denver.

John McCain bisa menyusul rating Barack Obama di polling dengan cara
mengkontraskan dirinya.

Di DNC, Obama dan pembicara lain selalu menekankan bahwa Demokrat akan
memberikan presiden yang merakyat. Sedangkan di RNC, John McCain dan
pendukungnya justru terus-menerus menekankan bahwa negara dan
patriotisme adalah segalanya.

Karena McCain adalah mantan tawanan perang di Vietnam, maka inilah
modal terbesarnya yang bisa dikembangkan jadi tema kampanye.

Sedangkan George W. Bush yang sekarang lagi jadi ”lame duck president”
mengingatkan bahwa McCain yang pahlawan perang inilah yang nantinya
bisa menjaga Amerika dari terorisme.

Bahkan Joe Lieberman, senator Independen yang mantan running mate John
Kerry dari Demokrat empat tahun lalu, tidak segan-segan mengatakan
bahwa McCain adalah calon presiden yang dihormati di dalam negeri dan
ditakuti musuh.

Selain itu, musik-musik heroik yang berirama mars terus-menerus
dimainkan di RNC dan banyak veteran perang dengan peci khasnya hadir
di situ.

Benar-benar kontras dengan DNC yang selalu berirama kerakyatan.

Stadion yang dipakai sama-sama penuh, tapi yang lebih penting adalah
media elektronik dan Internet.

CNN dan Fox menyiarkan acara tersebut ke seluruh dunia. Bahkan, TV
non-Amerika seperti BBC dan Al Jazeera juga menyiarkannya.

Belum lagi kalau kita bicara radio dan suratkabar.

Yang lebih seru lagi tentunya Internet.

Lewat Blackberry, saya bisa terus mengikuti perkembangan persaingan
politik itu dari mana pun.

Termasuk reaksi dari publik dan lawan mereka.

Itulah New Wave Landscape yang bersifat Digital, Global, dan Future
seperti telah dibahas kemarin.

Nah, para New Wave Marketer, sudah waktunya Anda belajar dari para
politisi dalam me-marketing-kan idenya.

Apapun yang Anda katakan tentang produk Anda bisa direaksi dengan
cepat dan instan oleh pesaing dan publik.

Lihat saja, bagaimana dengan gampangnya LSM mengkritik suatu produk
tertentu secara terbuka.

Publik yang komplain tidak usah menunggu surat pembacanya dimuat oleh
media massa, tapi malah bisa membuat media mereka sendiri. Kalau tidak
puas terhadap suatu produk atau servis, orang tinggal mengirim e-mail
ke milis atau berkomentar di blog.

Data terkini dari Technorati menunjukkan bahwa ada 175 ribu blog baru
yang diciptakan setiap hari; sehingga saat ini tercatat ada 112,8 juta
blog! Selain itu, para blogger ini juga memasukkan post baru sebanyak
1,6 juta per hari.

Tentu saja, blog-blog ini isinya macam-macam.

Ada yang merupakan blog dari fans berat sebuah merek. Misalnya saja
”The Nokia Blog” yang dibuat oleh Mark Guim. Mahasiswa Universitas
Pace AS berusia 23 tahun ini bukanlah karyawan Nokia dan dia juga
tidak dibayar oleh Nokia. Namun, saking nge-fans-nya dia terhadap
produk-produk Nokia, Guim pun membuat blog yang sangat populer di
kalangan pengguna Nokia ini.

Namun, tidak sedikit pula blog yang mengkritik merek tertentu. Yang
paling terkenal adalah blog ”The Buzz Machine” yang pernah mengkritik
keras perusahaan raksasa komputer Dell.

Jeff Jarvis, seorang jurnalis senior Amerika yang membuat blog
tersebut, pada Juni 2005 memasukkan post yang isinya mengkritik keras
customer support Dell. Di dalam blog-nya tersebut, saking jengkelnya,
ia menggunakan istilah yang kemudian sangat terkenal, ”Dell Hell”.

Tanggapannya ternyata luar biasa. Sampai-sampai, komplain Jarvis
tersebut, hanya dalam waktu dua hari setelah muncul di blog-nya,
kemudian dipublikasikan di surat kabar The New York Times dan juga
diterbitkan di majalah Business Week!

Menakjubkan, bukan, bagaimana seseorang lewat blog-nya mampu
mempengaruhi citra sebuah perusahaan raksasa sekelas Dell?

Jadi, jangan pernah anggap sepele pendapat-pendapat tentang merek atau
produk Anda yang ada di Internet, khususnya di blogosphere!

Kejadian di satu tempat juga dengan cepat merambat kemana-mana karena
globalisasi informasi.

Mendadak saja, masa lalu produk atau brand kita jadi kurang relevan.

Yang lebih penting adalah, apakah produk atau brand kita masih relevan
di masa depan.
Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca online di Kompas

Percuma saja Anda membangga-banggakan kehebatan produk Anda di masa
lalu. Karena, cerita tentang kehebatan itu bisa hilang dalam sekejap
mata lewat Internet seperti contoh ”Dell Hell” tadi.

Dengan demikian, kalau Anda mau jadi New Wave Marketer jelas harus
jadi Digital Marketer, Global Marketer maupun Future Marketer!

Walaupun produk yang dijual cuma produk non-digital, lokal, dan masih
produk masa lalu.

Three Stages of Marketing: Pseudo, Legacy and New Wave

Posted on September 6th, 2008 in Blog Advertising, marketing | 1 Comment »

Oleh Hermawan Kertajaya, diambil dari

BAGI saya, Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, telah dan
sedang mengalami tiga era marketing.

Era yang pertama terjadi sebelum tahun 1998. Saya menyebutnya sebagai
era Pseudo Marketing.

Pada era ini, orang sudah belajar marketing, tapi tidak banyak yang
menerapkan dengan benar.

Kenapa? Ya karena lebih enak ber-”KKN ria”.

Lihat saja, berapa banyak konglomerat, bukan cuma di Indonesia, tapi
juga di Malaysia, Thailand, Filipina dan bahkan Korea, yang masuk ke
bisnis apapun. Mereka bisa berkembang dengan pesat terutama karena
“dekat” dengan pemerintahan saat itu.

Kompetensi tidak terlalu diperlukan, yang penting koneksi. Apalagi
saat itu masih banyak monopoli dalam berbagai sektor bisnis.

Setelah krisis Asia, banyak perusahaan jadi sadar bahwa kalau mau
survive mereka harus bisa lebih kompetitif.

Buku-buku marketing mulai dibuka kembali. Konsep-konsep yang ada dalam
buku-buku tersebut mulai diterapkan.

Sejumlah konglomerat juga melakukan refocusing supaya bisa lebih
konsentrasi menjalankan bisnisnya.

Analisis pasar dilakukan, dan persaingan mulai berlangsung secara fair.

Era setelah 1998 sampai sekarang inilah yang saya sebut sebagai era
Legacy Marketing.

Setelah tahun 2008, sepuluh tahun setelah krisis Asia, saya mengatakan
sekarang inilah dimulainya era New Wave Marketing.

Di Indonesia, era New Wave Marketing ini sudah bisa terlihat
tanda-tandanya secara jelas.

Di zaman Pak Harto dulu, semuanya sangat vertikal. Mulai dari
politiknya, di mana Golkar menang terus dan presidennya Pak Harto
terus. Peraturan-peraturan diputuskan oleh Pemerintah Pusat dan
berlaku untuk seluruh Indonesia.

Ekonominya juga sangat terpusat dan vertikal karena semuanya diatur
dari Jakarta. Daerah-daerah cuma bisa mengajukan usulan untuk kemudian
menunggu pembagian rezeki dari Pusat (baca: Jakarta).

Begitu juga aspek sosial-budaya. Semua orang ramai-ramai belajar
bahasa Jawa, yang dianggap merupakan bahasa nasional kedua tidak resmi.

Grup lawak Srimulat juga jadi terkenal karena guyonan-guyonan khas
Jawanya.

Banyak orang yang sebenarnya tidak mengerti bahasa Jawa terpaksa
belajar bahasa Jawa agar bisa diterima di lingkungan pergaulan maupun
di kantornya.

Market pun sangat terpusat. Karena itu, strategi perang pemasaran pun
terpusat di Jakarta. Semuanya dibuat oleh Kantor Pusat di Jakarta.

Persis seperti struktur pemerintah, maka organisasi perusahaan juga
begitu. Kepala wilayah atau kepala cabang tinggal jadi pelaksana belaka.

Inilah ciri-ciri pasar yang Vertikal.

Lantas, bagaimana sekarang?

Masih banyak perusahaan atau organisasi yang tidak menyadari bahwa
pasar telah jadi Horisontal.

Banyak yang belum mendesentralisasikan organisasi pemasarannya.

Padahal, mulai dari aspek Political-Legal, Economy, sampai ke
Social-Culture, semua daerah di Indonesia sudah beda-beda akibat
otonomi daerah.

Dalam bidang politik misalnya, koalisi partai di satu daerah dan
daerah lain bisa sangat berbeda.

Bahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang punya konstituen orang
Islam dan Partai Damai Sejahtera (PDS) yang punya konstituen orang
Kristen pun bisa berkoalisi untuk pemilihan kepala daerah di Papua.

Apalagi ekonominya.

Sekarang, orang di luar Jawa bisa lebih kaya daripada orang di Jawa
justru ketika terjadi inflasi secara nasional. Hal ini karena sumber
daya alam yang menghasilkan komoditas ekspor ada di luar pulau Jawa semua.

Begitu juga dengan aspek sosial-budaya.

Tiap-tiap daerah sekarang sangat bangga dengan budaya masing-masing.

Karena itu, sebuah perusahaan sekarang membutuhkan strategi perang
pemasaran market by market.

Kemenangan Anda akan ditentukan oleh jumlah secara agregat dari
kemenangan perang di daerah. Anda tidak bisa lagi hanya membuat satu
strategi untuk semua.

Tentu, Anda harus mempunyai sebuah Umbrella Strategy. Tapi, setelah
itu tiap-tiap Field Marketer di daerah harus menerjemahkannya menjadi
strategi daerah masing-masing.

Di era pasar yang Horisontal ini, Kepala Cabang bukan lagi Middle
Manager yang hanya jadi pelaksana. Tapi, Kepala Cabang harus jadi
Mini-General Manager yang membuat keputusan strategis.

Pertanggungjawaban vertikal ke atas (Kantor Pusat) harus dicapai lewat
aplikasi strategi ke samping secara horisontal (pasar). Kepala Cabang
harus punya kreativitas dan bisa melakukan penyesuaian-penyesuaian
sesuai dengan kondisi pasar yang dihadapinya. Tentu saja harus tetap
dalam koridor-koridor Umbrella Strategy yang telah ditetapkan.

Bukankah customer memang harus dilayani secara Horisontal?

Karena mereka memang gak peduli. Di manapun mereka berada, mereka
menuntut layanan yang sama dari brand yang sama. Kalau ada perbedaan
layanan, customer akan bingung dan bukan tidak mungkin akan
meninggalkan Anda.

Borderless World, Seamless Market

Posted on September 6th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

“We will be number one or two in every business we’re in, or we will
fix it, close it, or sell it.”

Itulah ucapan terkenal dari Jack Welch yang menjadi kredo
kepemimpinannya. Karena ucapannya ini, banyak orang Amerika marah pada
Welch yang ketika itu baru saja diangkat jadi CEO General Electric (GE).

Maklum, orang Amerika, saking bangganya dengan GE, punya pendapat,
“What is good for GE, is good for America.”

Mereka khawatir akan terjadinya lay-off besar-besaran di GE kalau
Welch menganggap suatu divisi atau anak perusahaannya kalah bersaing,
bukan hanya di tingkat Amerika, tapi juga di tingkat dunia.

Welch juga menyatakan bahwa GE bukan perusahaan Amerika lagi, tapi
harus jadi perusahaan global. Karena itu, kultur perusahaan mesti
diubah. Orang-orang GE harus bisa merasa nyaman ketika diminta bekerja
di manapun di dunia. GE tak bisa lagi hanya menjadi raksasa di AS,
tapi harus menjadi perusahaan kelas dunia.

Berkat kepemimpinannya inilah, pada tahun 1999 ketika Welch lengser,
majalah bisnis terkemuka Fortune menobatkan dia menjadi “Manager of
the Century.”

Padahal, baru 5 tahun sebelumnya, September 1994, majalah yang sama
pernah memuat cover story berjudul “Jack Welch’s Nightmare on Wall
Street”; yang isinya mempertanyakan kinerja manajemen GE. Saat itu
terjadi kasus perdagangan fiktif pada anak perusahaan GE, Kidder
Peabody, yang mengakibatkan GE kehilangan pendapatan sebesar 350 juta
dollar AS!

Walaupun dilanda kasus tersebut, Welch ternyata bisa tetap memimpin GE
sampai masa pensiunnya. GE sukses dikenal sebagai perusahaan global
dan duduk di peringkat teratas Fortune 500 selama bertahun-tahun.

Jack Welch dan GE memang hebat. Namun, jangan kecil hati. Sekarang,
Anda tidak perlu jadi seorang Jack Welch atau bekerja di perusahaan
sekelas GE untuk menjangkau pasar global.

Internet telah membuka batas-batas dunia sehingga pasar menjadi tanpa
batas. Semua orang bisa punya kesempatan yang sama untuk masuk ke
pasar global.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak perusahaan ataupun individu yang
bertarung di pasar global dengan memanfaatkan Internet ini. BaliCamp,
perusahaan pengembang software yang berbasis di Bali misalnya, bisa
melayani klien-kliennya yang membutuhkan solusi IT di berbagai penjuru
dunia. Begitu juga Sonia Bali, yang bisa menjual berbagai produk
suvenir dan aromaterapinya dengan memanfaatkan media Internet.

Saya sendiri, ketika baru-baru ini tertarik ingin pergi ke St.
Petersburg di Rusia, menggunakan Internet untuk mencari hotel yang
tepat dengan harga yang pas. Enak memang, karena saya bisa memilih
sendiri hotel yang saya sukai dengan cepat.

Tapi, itu baru permulaan dari gejala New Wave Market yang jadi horisontal.

Gejala baru sudah jelas di Dunia Tanpa Batas dan Pasar Tanpa Halangan ini.

Coba perhatikan pasar horisontal yang nyata walaupun maya di eBay yang
mempertemukan penjual dan pembeli dari seluruh dunia.

Penjual merasa bisa menjangkau dunia tanpa batas sehingga bisa
mendapatkan harga yang paling tinggi. Sedang pembeli merasa punya
keleluasaan untuk memilih berbagai penawaran dari manapun untuk
mendapatkan yang terbaik juga. Pihak penyelenggara, eBay, hanya
memfasilitasi transaksi horisontal yang fair.

Contoh lainnya adalah Alibaba.com. Perusahaan yang didirikan Jack Ma
tahun 1999 ini juga sukses karena jadi tempat pertemuan antara para
supplier dan buyer, terutama yang punya minat untuk pasar China yang
begitu luas.

Pada tahun 2008 ini, Alibaba.com sudah mampu menarik 23 juta
pengunjung, di mana 65%-nya berasal dari China. Tak heran jika raksasa
Internet seperti Yahoo! pun tertarik untuk menjalin kerjasama
strategis dengan Alibaba.com ini. Selain itu, IPO-nya pada November
2007 pun tercatat sebagai IPO perusahaan Internet terbesar kedua
setelah Google.

Dua perusahaan dotcom ini menunjukkan kesuksesannya masing-masing.
Kalau eBay sukses di business-to-consumer (B2C), maka Alibaba.com di
business-to-business (B2B).

Tapi yang unik, baik eBay maupun Alibaba.com sebenarnya tidak
memproduksi barang-barangnya sendiri. Mereka hanya memfasilitasi
transaksi antara penjual dan pembeli secara horisontal. Baik penjual
dan pembeli ini adalah Customer bagi eBay maupun Alibaba.com.

Jadi, yang terjadi adalah Customer-to-Customer atau C2C. Di mana kedua
belah pihak, baik penjual maupun pembeli, punya status yang sama.

Benar-benar Horisontal.
Oleh Hermawan Kertajaya, diambil dari Kompas

Itulah salah satu contoh konkret horisontalisasi pasar di New Wave
Paradigm.

Kenapa bisa terjadi?

Jelas karena adanya Teknologi yang mendorong Horisontalisasi, Politik
dan Regulasi-regulasi yang makin Horisontal, Ekonomi yang dikendalikan
kekuatan moneter horisontal dan juga situasi Sosial-Budaya yang juga
makin horisontal.

Marketing Olympics: One Game – One Market

Posted on September 6th, 2008 in Blog Advertising, marketing | No Comments »

Oleh Hermawan Kertajaya, diambil dari

ANDA nonton Olimpiade Beijing kemarin?

Luar biasa, bukan? Begitu Olimpiade ini ditutup dengan sukses, China
sudah tidak bisa diabaikan lagi di peta dunia.

Bangsa ini sukses sebagai tuan rumah dan juara umum sekaligus. Acara
pembukaan dan penutupannya yang sangat spektakuler bahkan dianggap
sebagai salah satu show terbaik sepanjang sejarah.

Ucapan Confucius sekitar 2500 tahun lalu, “It is glorious to receive
friends from afar”, adalah local wisdom yang dipakai sebagai universal
message di Olimpiade terbesar itu.

Seolah China mau membuktikan pada dunia, walaupun sistem politik
mereka masih Vertikal satu partai, Partai Komunis China, tapi secara
sosial-budaya orang China sudah sangat Horisontal sejak dulu.

Di Olimpiade Beijing tersebut, negara Tirai Bambu ini juga seolah
ingin menunjukkan bahwa dua hal itu saling memperkuat, bukannya
menetralisir satu sama lain.

Pesan Horisontal lainnya bisa dilihat pada sosok Bono. Frontman U2
asal Irlandia yang nama aslinya Paul David Hewson ini memang bukan
cuma terkenal sebagai penyanyi, tapi juga sudah lama terkenal sebagai
tokoh humanis.

Terlahir dari seorang ibu yang berasal dari Gereja Anglican Irlandia
dan bapak yang menganut Katolik Roma, Bono dibesarkan di tengah
situasi perang antar agama di negerinya. Karena itu, Bono menulis
banyak lagu yang memprotes situasi di kampung halamannya tersebut. Ia
juga terlibat dalam berbagai gerakan humanisme. Salah satunya yang
terkenal adalah dengan mendukung gerakan Coexist yang menyampaikan
pesan perdamaian di antara tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Tak heran, dengan tema universalnya ini Bono mendapat banyak dukungan.
Salah satunya dari Barack Obama, yang memakai lagu Beautiful Day dari
U2 untuk mengiringi acceptance speech-nya pada Konvensi Partai
Demokrat lalu.

Di Bali, dekat lokasi Ground Zero di Legian, pernah ada poster yang
mirip gerakan yang serupa Coexist ini, namanya “Five Fingers of the
Same Hand”. Ada gambar tangan dengan gambar hati di telapak tangannya
dan masing-masing jari bertuliskan Buddhist, Hindu, Muslim, Jewish,
dan Christian.

Yang menarik juga adalah kematangan masyarakat dunia dalam menanggapi
beredarnya video klip Fitna dari anggota parlemen Belanda, Geert
Wilders, di Internet.

Ternyata orang tidak terpancing untuk terus-terusan marah dan membalas
secara membabi-buta, tapi malah ide Fitna yang memfitnah itu tidak
laku dijual di mana-mana.

Saya malah terkesan dengan ucapan Selamat Hari Natal tahun 2007 lalu
yang berasal dari ratusan pemikir muslim dari sekitar 40 negara. Di
situ, para pemikir Islam yang didukung oleh sebuah institut yang
dipimpin oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad bin Talal dari Jordania ini
mengutip ayat Al-Qur’an tentang kelahiran Nabi Isa. Bagi saya, ini
menunjukkan bahwa walaupun agama dan keyakinan berbeda (Vertikal),
namun sebagai sesama manusia kita bisa saling menghormati (Horisontal).

Bagaimana dengan India yang sekarang juga disebut sebagai bagian dari
Kebangkitan Asia baru?

Walaupun mayoritas penduduknya beragama Hindu, India ternyata bukan
cuma punya ikon seperti Mahatma Gandhi yang menganut Hindu. India juga
punya ikon seperti Bunda Teresa yang Suster Katolik Roma dan Taj Mahal
yang mausoleum kebanggaan masyarakat muslim. Sekali lagi, agama yang
bersifat Vertikal bisa “hidup berdampingan” dengan aspek kemanusiaan
dan sosial-budaya yang bersifat Horisontal.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia sendiri?Saya selalu belajar dari
teman saya Prof. Komaruddin Hidayat yang Rektor Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Katanya, semakin kita punya teknologi tinggi yang bisa menjelajah
galaksi, maka tiap-tiap manusia jadi semakin kecil dan tidak berarti.

Pertentangan agama dan etnik yang sangat vertikal itu jadi semakin
tidak ada artinya.

Kalau semua kita sudah mencapai tingkat Sufi, maka agama masing-masing
akan jadi kelihatan lebih indah.

Indonesia beruntung sekali mempunyai Pancasila, yang sila pertamanya,
Ketuhanan yang Maha Esa, bersifat Vertikal dan sila keduanya,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, bersifat Horisontal.

Selain itu, konsep Rahmatan lil Alamin yang dianut kaum
muslim—mayoritas penduduk Indonesia—juga menunjukkan horisontalisasi
sesuatu yang vertikal.

Maka, balik lagi ke Olimpiade Beijing tadi. Bagi saya, Olimpiade
Beijing bisa menjadi inspirasi untuk para New Wave Marketer.

Bersainglah untuk negara Anda (Vertikal), tapi dengan fair
(Horisontal). Berjuanglah untuk menjadi juara, namun tetap dengan
sportif dan mematuhi aturan-aturan main yang ada.

Kenapa?

Ya karena pasar global telah menjadi datar, artinya semua mendapat
kesempatan yang sama.

Dan, bersaing di era New Wave layaknya seperti bersaing untuk merebut
medali di berbagai pertandingan di Olimpiade Beijing.