Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas
PERNAH lihat video klip yang judulnya “Evolution of Dance”? Kalau
belum, coba sekarang juga Anda buka situs YouTube dan ketik judul
video klip tadi di kotak pencarian.
Sudah ketemu? Ya, inilah video klip yang menjadi fenomena di YouTube.
Video klip ini tercatat disaksikan sebanyak hampir 100 juta kali!
Video klip ini menjadi video klip nomor dua paling populer di YouTube
setelah video klip dari penyanyi Avril Lavigne.
Sebelumnya, selama lebih dari 2 tahun sejak di-upload di YouTube pada
6 April 2006, “Evolution of Dance” ini merupakan video klip nomor satu
paling populer di YouTube. Pada masa-masa awal, video klip ini bahkan
disaksikan sebanyak lebih dari 10 juta orang hanya dalam jangka waktu
kurang dari dua minggu! Luar biasa, bukan?
Di video klip sepanjang sekitar 6 menit ini, komedian dari Amerika
yang bernama Judson Laipply memperagakan kemahirannya menari sambil
diiringi sejumlah lagu dari berbagai penyanyi dari berbagai era.
Laipply dengan sangat persis menirukan gaya yang ditampilkan para
penyanyi tersebut di video klip mereka.
Laipply dengan sangat persis menirukan gaya Elvis Presley di era
1950-an ketika diputar lagu “Hound Dog”. Begitu juga gaya The Village
People di era 1980-an pada lagu “Y.M.C.A.”, tarian Vanilla Ice pada
lagu “Ice Ice Baby” dan MC Hammer pada lagu “U Can’t Touch This” di
awal 1990-an, sampai gaya Eminem ketika membawakan lagu “Lose
Yourself” di awal tahun 2000-an. Video klip ini akhirnya juga masuk ke
dunia offline, dan dipublikasikan di sejumlah mainstream media
terkenal seperti CNN, E!, dan USA Today. Laipply sendiri sempat
menjadi bintang tamu pada acara talk-show yang sangat populer, Oprah.
Inilah tipikal video klip yang berpeluang besar untuk bisa populer di
YouTube: lucu, konyol, pendek, serta sekaligus cerdas. Kalau sudah
bisa seperti itu, orang pun akan dengan serta-merta menyaksikannya
dengan penuh antusias.
Nah, kisah kesuksesan di dunia online seperti ini bukan milik Laipply
semata. Masih banyak orang yang dengan cerdas bisa memanfaatkan Web
2.0 ini. Selain YouTube, situs MySpace juga sudah lebih dulu
dimanfaatkan oleh sejumlah grup band—terutama band-band indie—untuk
menampilkan karya-karya mereka. MySpace ini memang sangat populer di
kalangan musisi karena memiliki fitur yang memungkinkan anggotanya
untuk meng-upload musik dan video mereka secara mudah.
Sejumlah grup band yang saat ini populer di kalangan anak muda
Indonesia seperti The Changcuters, Mocca, Sore, Everybody Loves Irene,
Zeke and the Popo, dan Goodnight Electric juga punya account di
MySpace. Bahkan, kelompok White Shoes and the Couples Company sempat
dinobatkan menjadi salah satu dari 25 band terbaik di MySpace versi
majalah musik terkemuka, Rolling Stone, pada Desember 2006 lalu.
Memang, situs seperti MySpace memungkinkan para band tadi untuk
melakukan promosi dengan biaya rendah. Banyak keuntungan yang bisa
langsung didapat. Misalnya pesanan album, kontrak dari label rekaman,
rilis album secara digital lewat Internet, dan tawaran manggung yang
bukan hanya datang dari pelosok Nusantara, tapi bahkan dari seluruh dunia!
Lebih enaknya lagi, promosi tadi tidak perlu dilakukan sendiri oleh
para musisi tersebut. Tapi, lewat jaringan pertemanan yang ada di
situs MySpace tadi, semua penggemar bisa ikut menyebarluaskan promosi
tentang musik-musik mereka. Ini menunjukkan bahwa di New Wave
Landscape, sekali pelanggan itu merasa excited, mereka akan
mem-forward, men-tagging, meng-invite, meng-add, meng-confirm,
meng-share, me-recommend, me-rating, mem-vote, men-submit, dan
berbagai istilah lainnya yang ada di Web 2.0 saat ini.
Jangan lupakan juga kisah sukses yang fenomenal dari film “Ayat-ayat
Cinta” pada awal tahun 2008 ini. Film yang diangkat dari buku dengan
judul sama karya Habiburrahman El-Shirazy yang juga sangat laris ini
buzz-nya sudah ada jauh sebelum penayangan filmnya. Mulai dari
lika-liku kisah di balik layarnya yang dimuat di blog sutradaranya,
Hanung Bramantyo, sampai beredarnya film versi unedited-nya di Internet.
Selain itu, setelah film “Ayat-ayat Cinta” ini diputar di bioskop,
banyak penonton yang merasa sangat tersentuh, dan akhirnya mereka
menuangkannya di Internet lewat blog, milis, dan forum-forum diskusi.
Promosi yang ada menjadi berlipat ganda. Bahkan, ketika belum sampai
satu bulan rilis di bioskop, film ini telah mampu menyedot sekitar 2,4
juta penonton! Saking ramainya pemberitaan yang ada saat itu,
sampai-sampai Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun
menyempatkan diri menonton film ini.
Nah, semua ini menunjukkan bahwa kesuksesan yang ada di online juga
bisa menjalar ke offline. Selain itu juga menunjukkan betapa
pentingnya peranan pelanggan yang sudah sangat excited. Di era New
Wave Marketing ini, pelanggan memang jauh lebih sensitif. Kalau sudah
marah, ya marah sekali. Tapi sebaliknya, kalau sudah suka, akan suka
sekali.