Ditulis oleh Hermawan Kertajaya, dapat dibaca di Kompas

“A business does more than transact. It communicates. It collaborates.
It innovates.”

Itulah yang dikatakan Mohan Sawhney dan Jeff Zabin dalam bukunya, The
Seven Steps to Nirvana.

Buku ini judulnya memang bisa membingungkan. Mungkin ada yang mengira
buku ini tentang spiritualisme.

Padahal sebenarnya, buku ini membahas tentang manfaat e-business
(baca: teknologi) dalam sebuah perusahaan. Kata “nirvana” bermakna
bahwa kalau sebuah perusahaan bisa menjalankan tujuh langkah yang ada
dalam buku ini, niscaya perusahaan tersebut akan mampu mencapai puncak
tertinggi dan jadi pemenang.

Kedua penulis mengatakan hal tersebut pasca meletusnya gelembung
dotcom pada sekitar tahun 2000. Sawhney dan Zabin bilang, teknologi
semahal dan secanggih apapun yang dipraktikkan dalam e-business tidak
akan berarti apa-apa jika kita tidak menjalankan langkah-langkah yang
tepat.

Prinsipnya, e-business haruslah tetap customer-centric, bukan
technology-centric.

Inilah yang rupanya kurang diperhatikan oleh para dotcom entrepreneurs
saat itu. Mereka kalah bersaing dan akhirnya terjadilah peristiwa
dotcom bust. Padahal, teknologi yang digunakan mereka sudah sangat
canggih. Modal juga melimpah ruah dengan hadirnya venture capital di
mana-mana.

Namun, tetap saja banyak perusahaan dotcom yang kalah bersaing dan
akhirnya mati.

Sawhney dan Zabin bilang, penerapan teknologi haruslah selalu
menghasilkan satu atau lebih dari empat kemungkinan berikut:
pengurangan biaya (cost reduction), peningkatan pendapatan (revenue
expansion), pengurangan waktu (time reduction), dan/atau peningkatan
relasi (relationship enhancement).

Nah, jadi gampangnya, kalau teknologi yang Anda gunakan tidak mampu
menghasilkan salah satu dari keempat hal di atas, berarti Anda
menerapkan teknologi yang keliru.

Untuk mencapai hal-hal tersebut, ada tujuh langkah yang harus
dilakukan. Pertama adalah menentukan visi terlebih dahulu. Kemudian
proses evolusi agar perusahaan siap menerapkan teknologi. Lalu
perumusan strategi. Disusul berturut-turut sinkronisasi, penyusunan
infrastruktur, kapitalisasi, dan penyiapan organisasi.

Visi memang harus diletakkan pertama kali. Proyek Iridium dari
Motorola pada akhir 1990-an misalnya, gagal karena visi yang salah.

Proyek tersebut bertujuan menyediakan telepon seluler dengan kemampuan
jelajah (roaming) global pada mainstream market. Intinya, tidak ada
lokasi di dunia ini yang bisa luput dari jangkauan Proyek Iridium ini.
Namun pasar ternyata tidak meresponnya.

Coba, bayangkan, berapa banyak sih, pelanggan telepon seluler yang
punya kebutuhan komunikasi global. Apalagi harga hand-set-nya jauh
lebih mahal ketimbang harga hand-set telepon seluler biasa saat itu.

Visi bisnisnya memang kurang tepat. Daripada menyasar mainstream
market, seharusnya Proyek Iridium ini menyasar pasar-pasar ceruk
(niche) seperti para geologist atau personel militer yang berada di
lokasi-lokasi terpencil.

Karena visi yang keliru inilah, Proyek Iridium akhirnya dinyatakan
bangkrut pada tahun 1999. Padahal investasi yang dikeluarkan sudah
mencapai 5 milyar dollar AS!

Langkah lainnya adalah strategi. Berpikir secara strategis tentang
e-business adalah berpikir lebih sebagai seorang arsitek, bukan
insinyur. Arsitektur harus didahulukan ketimbang engineering.

Maksudnya, kita harus berpikir tentang skema besar di mana bisnis
tersebut disusun, bukan fokus kepada komponen individual atau proses
bisnisnya. Arsitek berpikir secara sintesis, sementara insinyur
berpikir secara analitis.

Pada Januari 1999, Jack Welch, CEO GE, meluncurkan program “Destroy
Your Business” di GE. Setiap unit menganalisis pesaing masing-masing
yang berkaitan dengan e-business. Kemudian, masing-masing unit itu
bertindak seolah-olah sebagai pesaing tersebut dan membuat rencana
bisnis untuk “menghancurkan” GE.

Setelah itu, pada tahap selanjutnya, barulah unit-unit GE itu menyusun
program, bagaimana arsitektur bisnis yang ada sekarang akan diubah
untuk menanggapi ancaman ini.

Hasilnya? Semua unit bisnis GE tadi akhirnya mampu menemukan cara baru
dan kreatif untuk meraih pelanggan baru dan melayani pelanggan lama
dengan lebih baik.

Inilah yang dimaksud berpikir sebagai seorang arsitek. Welch mencoba
melihat dan mendesain “bangunan” bisnis yang ada secara keseluruhan
terlebih dahulu dengan menempatkan pesaing sebagai bagian dari bisnis.
Barulah kemudian ia mengkonstruksi bisnisnya kembali untuk bisa
bekerja lebih baik.

Memang, dalam era New Wave Marketing yang semakin transparan dan
semakin mudah mendapatkan informasi ini, pesaing justru bisa menjadi
“mitra” yang sangat berharga untuk pengembangan bisnis kita. Kalau
kita tahu kemampuan pesaing, dengan sendirinya kita juga bisa
meningkatkan kemampuan kita agar tidak didahului oleh pesaing.