Star Wars: The Galaxy of New Wave Landscape

Oleh Hermawan Kartajaya, dapat dibaca online di Kompas

FILM mahakarya George Lucas yang satu ini memang favorit saya dari
dulu. Ketika seri terakhirnya, “Star Wars Episode III: Revenge of the
Sith”, dirilis tahun 2005 lalu, saya sampai bela-belain menonton lagi
kelima seri sebelumnya untuk mencermati ceritanya sekali lagi.

Film Star Wars memang bukan film biasa. Dari urutannya saja sudah
terlihat unik. Film pertama yang diproduksi adalah seri film yang
keempat. George Lucas bilang, hal ini karena pada pertengahan 1970-an
sewaktu ia punya gagasan untuk membuat serial film ini, teknologi yang
ada saat itu belum memungkinkan untuk mewujudkan secara visual seri
pertamanya.

Jadinya, trilogi bagian akhir keseluruhan cerita Star Wars (Episode
IV-VI), justru dibuat lebih dahulu pada pertengahan 1970-an sampai
awal 1980-an. Sedangkan cerita-cerita awalnya (Episode I-III) baru
dibuatkan filmnya pada akhir 1990-an sampai pertengahan 2000-an lalu.

Dari sini saja sudah ketahuan, bagaimana kreatifnya si George Lucas
itu. Tak heran, film ini sukses sangat luar biasa. Keenam film Star
Wars berhasil meraup pendapatan sekitar 4,3 milyar dollar AS dari
seluruh dunia!

Dan yang lebih penting, Star Wars ini sudah menjadi salah satu
fenomena budaya yang penting dalam abad ke-20. Film ini bukan hanya
mempengaruhi jagat hiburan dan seni, tapi juga merambah ke dunia
politik. Ingat program pengembangan senjata nuklirnya Presiden Ronald
Reagan dulu yang dijuluki “Star Wars”? Reagan bahkan menyebut Uni
Sovyet kala itu sebagai “Evil Empire”, yang diambil dari nama entitas
jahat di film Star Wars.

Nah, film Star Wars ini sedikit banyak bisa memberikan ilustrasi
tentang lanskap bisnis masa depan yang sangat cepat berubah dari waktu
ke waktu di era New Wave Marketing.

Lihat saja perjalanan para tokohnya di galaksi yang tak terbatas itu.
Mulai dari Planet Tatooine yang kering dan tandus serta punya dua
matahari, Planet Dagobah yang penuh rawa-rawa tempat tinggal Master
Yoda, Death Star tempat para musuh jahat yang merupakan planet buatan,
sampai ke Cloud City yang ada di atas awan. Setting-nya selalu berubah
dengan cepat dan tidak pernah sama.

Change yang terdiri dari Teknologi, Politik-Legal, Sosial-Budaya,
Ekonomi, dan Market juga terlihat semua di film. Kita disuguhkan
teknologi canggih yang sangat imajinatif, mulai dari karakter humanoid
R2-D2 dan C-3PO, pedang sinar (lightsaber), sampai tentunya
pertempuran dengan pesawat-pesawat luar angkasa yang sangat canggih.

Soal Politik-Legal juga terlihat pada peranan kaum pemberontak yang
dipimpin Han Solo, pengaruh Dewan Jedi, sampai pertarungan kekuasaan
di Senat Galaksi. Bisa dilihat bahwa individu seperti Han Solo atau
Senator Palpatine bisa lebih berpengaruh ketimbang institusi atau
pemimpin formal yang ada.

Dalam Sosial-Budaya, jangan ditanya lagi. Di Star Wars inilah kita
bisa melihat bukan hanya keragaman budaya, namun juga keragaman
makhluk dengan berbagai karakternya. Ada juga ucapan-ucapan Master
Yoda yang selalu bernas namun tidak mengikuti tata-bahasa yang umum.
Dan yang terpenting adalah konsep “The Force” yang sangat horisontal
dan menyiratkan relasi lintas agama (interfaith).

Kemudian, dalam soal Ekonomi dan Market terutama bisa dilihat pada
Star Wars Episode I: The Phantom Menace. Di sini banyak diceritakan
soal konflik dagang yang mengakibatkan penerapan blokade ke Planet
Naboo dan merupakan awal dari kisah epik Star Wars ini. Sekali lagi
bisa terlihat kekuasaan yang dimiliki oleh seorang individu seperti
Jabba the Hutt yang adalah pimpinan para gangster kriminal.

Nah, dalam soal Competitor juga terlihat bahwa jumlah mereka tidak
terbatas. Bisa muncul musuh-musuh baru yang dulu tidak terlihat. Yang
tadinya kawan bisa jadi musuh. Contoh paling nyata adalah pertarungan
antara Obi-Wan Kenobi melawan Anakin Skywalker alias Darth Vader muda.
Padahal dulunya Obi-Wan inilah yang mengasuh Anakin sejak kecil.

Begitu pula dalam soal Customer. Kita harus melayani
pelanggan-pelanggan kita secara mati-matian layaknya Han Solo dalam
melayani Luke Skywalker dan Princess Leia, walaupun belum tentu mereka
yang benar. Contoh menarik lainnya juga diperlihatkan Master Yoda yang
membimbing Luke Skywalker dengan telaten.

Nah, banyak pelajaran yang bisa didapat dengan mengambil metafora dari
Star Wars seperti di atas. Lanskap masa depan yang universal seperti
memberikan peluang yang tidak terbatas kepada semua orang. Untuk
meraih peluang itu, tentunya kita harus mengetahui dulu lanskap bisnis
kita; mulai dari Change (Teknologi, Politik-Legal, Sosial-Budaya,
Ekonomi, dan Market) sampai ke soal Competitor dan Customer.

Star Wars memberikan inspirasi bahwa di lanskap New Wave hanya mereka
yang berpikir secara kreatif dan imajinatiflah yang bisa sukses. “May
the Force be with all of us…”

Tags:

One Response to “Star Wars: The Galaxy of New Wave Landscape”

  1. F says:

    Setuju. saya juga menggemari serial yang satu ini. meskipun ada beberapa part yang saya rasa kurang “match” sih

Leave a Reply