Oleh Hermawan Kertajaya, diambil dari
ANDA nonton Olimpiade Beijing kemarin?
Luar biasa, bukan? Begitu Olimpiade ini ditutup dengan sukses, China
sudah tidak bisa diabaikan lagi di peta dunia.
Bangsa ini sukses sebagai tuan rumah dan juara umum sekaligus. Acara
pembukaan dan penutupannya yang sangat spektakuler bahkan dianggap
sebagai salah satu show terbaik sepanjang sejarah.
Ucapan Confucius sekitar 2500 tahun lalu, “It is glorious to receive
friends from afar”, adalah local wisdom yang dipakai sebagai universal
message di Olimpiade terbesar itu.
Seolah China mau membuktikan pada dunia, walaupun sistem politik
mereka masih Vertikal satu partai, Partai Komunis China, tapi secara
sosial-budaya orang China sudah sangat Horisontal sejak dulu.
Di Olimpiade Beijing tersebut, negara Tirai Bambu ini juga seolah
ingin menunjukkan bahwa dua hal itu saling memperkuat, bukannya
menetralisir satu sama lain.
Pesan Horisontal lainnya bisa dilihat pada sosok Bono. Frontman U2
asal Irlandia yang nama aslinya Paul David Hewson ini memang bukan
cuma terkenal sebagai penyanyi, tapi juga sudah lama terkenal sebagai
tokoh humanis.
Terlahir dari seorang ibu yang berasal dari Gereja Anglican Irlandia
dan bapak yang menganut Katolik Roma, Bono dibesarkan di tengah
situasi perang antar agama di negerinya. Karena itu, Bono menulis
banyak lagu yang memprotes situasi di kampung halamannya tersebut. Ia
juga terlibat dalam berbagai gerakan humanisme. Salah satunya yang
terkenal adalah dengan mendukung gerakan Coexist yang menyampaikan
pesan perdamaian di antara tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi.
Tak heran, dengan tema universalnya ini Bono mendapat banyak dukungan.
Salah satunya dari Barack Obama, yang memakai lagu Beautiful Day dari
U2 untuk mengiringi acceptance speech-nya pada Konvensi Partai
Demokrat lalu.
Di Bali, dekat lokasi Ground Zero di Legian, pernah ada poster yang
mirip gerakan yang serupa Coexist ini, namanya “Five Fingers of the
Same Hand”. Ada gambar tangan dengan gambar hati di telapak tangannya
dan masing-masing jari bertuliskan Buddhist, Hindu, Muslim, Jewish,
dan Christian.
Yang menarik juga adalah kematangan masyarakat dunia dalam menanggapi
beredarnya video klip Fitna dari anggota parlemen Belanda, Geert
Wilders, di Internet.
Ternyata orang tidak terpancing untuk terus-terusan marah dan membalas
secara membabi-buta, tapi malah ide Fitna yang memfitnah itu tidak
laku dijual di mana-mana.
Saya malah terkesan dengan ucapan Selamat Hari Natal tahun 2007 lalu
yang berasal dari ratusan pemikir muslim dari sekitar 40 negara. Di
situ, para pemikir Islam yang didukung oleh sebuah institut yang
dipimpin oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad bin Talal dari Jordania ini
mengutip ayat Al-Qur’an tentang kelahiran Nabi Isa. Bagi saya, ini
menunjukkan bahwa walaupun agama dan keyakinan berbeda (Vertikal),
namun sebagai sesama manusia kita bisa saling menghormati (Horisontal).
Bagaimana dengan India yang sekarang juga disebut sebagai bagian dari
Kebangkitan Asia baru?
Walaupun mayoritas penduduknya beragama Hindu, India ternyata bukan
cuma punya ikon seperti Mahatma Gandhi yang menganut Hindu. India juga
punya ikon seperti Bunda Teresa yang Suster Katolik Roma dan Taj Mahal
yang mausoleum kebanggaan masyarakat muslim. Sekali lagi, agama yang
bersifat Vertikal bisa “hidup berdampingan” dengan aspek kemanusiaan
dan sosial-budaya yang bersifat Horisontal.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia sendiri?Saya selalu belajar dari
teman saya Prof. Komaruddin Hidayat yang Rektor Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.
Katanya, semakin kita punya teknologi tinggi yang bisa menjelajah
galaksi, maka tiap-tiap manusia jadi semakin kecil dan tidak berarti.
Pertentangan agama dan etnik yang sangat vertikal itu jadi semakin
tidak ada artinya.
Kalau semua kita sudah mencapai tingkat Sufi, maka agama masing-masing
akan jadi kelihatan lebih indah.
Indonesia beruntung sekali mempunyai Pancasila, yang sila pertamanya,
Ketuhanan yang Maha Esa, bersifat Vertikal dan sila keduanya,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, bersifat Horisontal.
Selain itu, konsep Rahmatan lil Alamin yang dianut kaum
muslim—mayoritas penduduk Indonesia—juga menunjukkan horisontalisasi
sesuatu yang vertikal.
Maka, balik lagi ke Olimpiade Beijing tadi. Bagi saya, Olimpiade
Beijing bisa menjadi inspirasi untuk para New Wave Marketer.
Bersainglah untuk negara Anda (Vertikal), tapi dengan fair
(Horisontal). Berjuanglah untuk menjadi juara, namun tetap dengan
sportif dan mematuhi aturan-aturan main yang ada.
Kenapa?
Ya karena pasar global telah menjadi datar, artinya semua mendapat
kesempatan yang sama.
Dan, bersaing di era New Wave layaknya seperti bersaing untuk merebut
medali di berbagai pertandingan di Olimpiade Beijing.
Tags: hermawan kertajaya, marketing